Perpustakaan Samarinda Terbuka Umum untuk Giat Literasi

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Samarinda, Erham Yusuf mengatakan bahwa, perpustakaan Samarinda bisa dimanfaatkan oleh siapapun untuk kegiatan yang sifatnya meningkatkan literasi.

“Perpustakaan ini jika tidak ada kegiatan, akan sia-sia. Kami menghimbau untuk masyarakat yang ingin melakukan kegiatan di sini, pakai saja gedung ini selama untuk literasi,” ucap Erham kepada wartawan, Kamis (23/11/2023).

Seperti terpantau, Perpustakaan Samarinda kembali memfasilitasi kegiatan literasi. Kali ini Perpustakaan dengan arsitektur modern ini menjadi lokasi Peluncuran buku Histori Kutai dan diskusi publik pada 23 November 2023 hari ini.

Selain menyerukan ajakan untuk kegiatan literasi, Erham pun mengajak masyarakat untuk datang dan mengenal isi dari Perpustakaan Samarinda. Tidak hanya lewat membaca, tetapi bisa juga melalui berfoto atau sekadar membuat video di sana termasuk menghadiri kegiatan yang bisa meningkatkan literasi.

“Perpustakaan ini tidak hanya dikhususkan untuk membaca saja, sekadar berfoto ataupun membuat video juga tidak papa. Jadi anak-anak tidak tersiksa saat disuruh membaca. Bangun rasa cinta dulu di perpustakaan, hingga bisa membaca dengan cinta,” tutur Erham.

Untuk diketahui, diskusi publik terkait buku Histori Kutai ini membahas sejarah entitas Kutai dari zaman Mulawarman hingga era Republik Indonesia. Konten Kota Samarinda juga termasuk dalam lintasan sejarah Kerajaan Kutai.

Ada empat narasumber yang hadir di diskusi publik. Pertama, Prof. Asvi Warman Adam, Profesor Riset Bidang Sejarah Sosial Politik BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional. Sejarawan senior Indonesia ini menjelaskan perspektif sejarah lokal dan sejarah nasional. Asvi juga menulis epilog atau artikel pamungkas untuk buku Histori Kutai.

Kedua, Aji Mirni Mawarni, anggota MPR dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2019–2024. Keturunan Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman ini mempresentasikan masalah Kutai dan Kalimantan Timur dalam konteks Indonesia.

Ketiga, Nanda Puspita Sheilla, unsur publik pembaca buku sejarah. Perspektif dari pembaca umum perlu disimak karena buku sejarah bukan hanya ditujukan terbatas pada kalangan akademisi atau peneliti, atau intern lingkungan Kutai. Nanda merupakan bagian dari publik Samarinda yang sebelumnya pernah menjadi pembedah buku sejarah lokal berjudul Perang di Samarinda.

Keempat, Muhammad Sarip selaku penulis buku sekaligus sejarawan publik. Ia mengungkap dinamika riset sejarah Kutai dari masa ke masa serta proses penyusunan buku Histori Kutai.

Bertindak sebagai moderator adalah Aji Muhammad Mirza Wardana. Ia merupakan keturunan Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan saat ini menjadi Petinggi Pore (Ketua) Kerapatan Wilayah Sempekat Keroan Kutai. (adv-dpk kaltim/jp1/dho)