Tembiluk: Merajut Keberagaman dalam Toleransi Kuliner

Kalsih Mauli Shinta dan Berliana Amalia (Mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Politik Dan Ilmu Sosial Unmul)

Swarakaltim.com – Indonesia memiliki beragam budaya yang tersebar dari sabang sampai merauke. Keberagaman budaya tersebut terdapat dalam berbagai bahasa daerah, pakaian adat, tempat tinggal, sampai makanan yang memiliki ciri khas uniknya masing-masing. Tak terkecuali keunikan yang dimiliki oleh suku Dayak pedalaman Kalimantan. Ada banyak sekali keunikan yang dimiliki oleh suku Dayak yang harus masyarakat Indonesia ketahui.

Di tengah lautan budaya Kalimantan yang kaya, tembiluk, hidangan khas Suku Dayak, muncul sebagai perwakilan nikmatnya keragaman kuliner Indonesia. Lezatnya cita rasa tembiluk tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga membawa kita pada perjalanan menghargai dan merayakan multikulturalisme yang membangun persatuan di tengah perbedaan.

Hal yang cukup disoroti dalam hidangan ini adalah bentuknya yang mirip dengan cacing serta cara masyarakat suku Dayak memakan tembiluk dengan mentah. Pengambilannya pun biasanya dilakukan dengan menyusuri sungai langsung dan mencari  di dalam batang pohon yang berada di dasar sungai sehingga membuatnya cukup unik dipandang masyarakat umum.

Tembiluk, dengan ciri khasnya yang unik, menjadi simbol keberagaman kuliner Indonesia. Proses persiapan dan konsumsi tembiluk melibatkan aspek budaya dan tradisi Suku Dayak. Ini bukan hanya makanan, melainkan juga cerminan toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman yang memperkaya bangsa ini.

Selain itu, tembiluk menjadi jembatan untuk menjembatani kesenjangan antarbudaya. Ketika kita menikmati hidangan ini, kita ikut merasakan kaya akan tradisi dan sejarah yang membentuk budaya Suku Dayak. Ini adalah peluang untuk belajar, menghargai, dan merayakan keberagaman Indonesia.

Dalam era globalisasi ini, tembiluk juga memiliki potensi untuk mempromosikan pemahaman antar budaya. Ketika hidangan ini mencapai lidah orang-orang dari berbagai latar belakang, itu bukan hanya rasa yang tercipta, tetapi juga ikatan yang merajut masyarakat lintas batas. Tembiluk membuka jendela keanekaragaman kuliner Indonesia dan mengajak semua orang untuk menikmati keindahan persatuan dalam perbedaan.

Namun, untuk memastikan tembiluk tetap menjadi jembatan keberagaman, perlu adanya upaya pelestarian budaya dan lingkungan. Suku Dayak dapat memainkan peran penting dalam mendukung ini dengan memberikan kearifan lokal mereka dalam pengelolaan sumber daya alam dan menjaga keberlanjutan hidangan khas mereka.

Dengan mengolah, menyantap, serta melestarikan tembiluk, kita bukan hanya menikmati kelezatannya, tetapi juga ikut serta dalam perjalanan bersama untuk membangun masyarakat inklusif yang bisa menghargai keberagaman kuliner serta kearifan lokal yang ada di Indonesia.(*/dho)

Loading