
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Upaya pengangkatan sejarah Raja Alam melalui media film di dukung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau. Karena langkah tersebut penting untuk memperkenalkan tokoh sejarah lokal Bumi Batiwakkal kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi II lembaga legeslatif Kota Sanggam, Sutami di kantor DPRD jalan Gatot Subroto, Tanjung Redeb, Selasa (24/2/2026). “Kami sangat mengharapkan gagasan yang ada benar-benar bisa terlaksana dan memberi pemahaman kepada masyarakat tentang siapa Raja Alam,” ujarnya.
Masih Sutami, masih banyak masyarakat Berau yang belum mengetahui secara utuh sosok Raja Alam dan perannya dalam sejarah daerah. Karena itu, edukasi sejarah perlu dilakukan secara kreatif dan mudah diakses publik.
“Kalau hanya ditampilkan di teater mungkin hanya sekali tayang, tetapi kalau difilmkan, masyarakat bahkan dunia bisa menyaksikannya berkali kali. Kami juga sangat mengapresiasi inisiatif komunitas maupun organisasi yang berkeinginan mendokumentasikan kisah Raja Alam dalam bentuk film ini,” katanya lagi.
Sebab tambahnya, melalui upaya tersebut sejalan dengan pelestarian nilai sejarah dan identitas daerah. Raja Alam merupakan sosok penting yang namanya telah diabadikan di berbagai tempat di Bumi Batiwakkal, seperti nama jalan di wilayah Kecamatan Batu Putih hingga menjadi nama Batalyon Infanteri 613/Raja Alam. Namun, menurutnya, pengetahuan masyarakat tentang latar belakang sejarah tersebut masih terbatas.
“Jadi, secara pribadi saya sangat mengapresiasi ketika ada komunitas yang ingin memfilmkan kisah Raja Alam sesuai cita-cita mereka. Banyak orang tahu namanya, tapi belum tentu tahu sejarah perjuangannya, sehingga ini perlu kita angkat kembali melalui media film,” tutur Sutami.
Lebih lanjut, dirinya menceritakan bahwa makam Raja Alam di Kampung Tembudan Kecamatan Batu Putih menjadi bukti sejarah yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat. Bahkan, pada prasasti di makam tersebut tertulis kisah pertempuran laut melawan Belanda yang berlangsung hingga sepuluh hari sebelum akhirnya beliau diasingkan ke Makassar.
“Kisah seperti ini harus diketahui generasi sekarang agar mereka memahami sejarah perjuangan Pahlawan daerahnya. Mudah mudahan eksekutif bersama legeslatif bisa mensuport rencana itu meskipun ditengah kondisi keuangan lesu sekarang ini,” papar Legislator asal Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tersebut sekaligus menjawab pertanyaan. (Adv/Nht/Sof)