BALIKPAPAN,Swarakaltim.com. Lonjakan permintaan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah mulai berdampak pada harga sejumlah komoditas pangan di Kota Balikpapan. Bumbu dapur seperti cabai dan tomat menjadi komoditas yang paling mengalami kenaikan di pasaran.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Haemusri Umar, mengatakan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk memasak berbagai hidangan Lebaran menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas yang berkaitan dengan cita rasa makanan.
“Dari tren komoditas pangan, yang sedang ramai itu bumbu-bumbuan seperti cabai dan tomat. Karena ini menyangkut cita rasa, hampir semua masakan membutuhkan itu,”ujarnya di Balai Kota Balikpapan, Senin (9/3/2026).
Ia mengungkapkan, harga cabai di Balikpapan saat ini telah mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram, jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.
Menurut Haemusri, kenaikan harga tersebut tidak hanya dipicu oleh tingginya permintaan, tetapi juga dipengaruhi kondisi cuaca yang berdampak pada produksi di daerah penghasil cabai. “Cabai sekarang sudah di angka Rp100 ribu. Ini dipengaruhi oleh cuaca yang berdampak pada produksi,”jelasnya.
Selain faktor cuaca, Balikpapan juga masih bergantung pada pasokan cabai dari luar daerah karena produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Tingginya permintaan dari berbagai daerah turut membuat distribusi pasokan ke Balikpapan berkurang. “Permintaan di daerah lain juga cukup tinggi, sehingga pasokan yang masuk ke Balikpapan menjadi berkurang,”katanya.
Meski demikian, Haemusri memastikan ketersediaan bahan pangan di Balikpapan masih dalam kondisi aman. Sebagai salah satu pusat distribusi barang di Kalimantan Timur, pasokan komoditas umumnya tetap tersedia di pasar. “Persoalannya di harga, barang itu ada. Balikpapan ini salah satu pusat distribusi barang, jadi biasanya stok tersedia,” ujarnya.
Ia juga menilai pola konsumsi masyarakat Balikpapan turut memengaruhi dinamika harga di pasaran. Menurutnya, masyarakat cenderung tetap membeli kebutuhan pokok meskipun harga sedang mengalami kenaikan.
“Balikpapan berbeda dengan daerah lain seperti Samarinda atau Penajam. Masyarakat balikpapan yang penting barangnya ada, berapa pun harganya tetap dibeli,” tutupnya.(Adv dfbpp)