Evaluasi Operasional 10 Insinerator Samarinda, DLH Temukan Kendala Pemilahan Sampah hingga Kepatuhan SOP

Hingga pukul 08.41 WITA, belum ada aktivitas pembakaran di fasilitas insinerator Jalan Polder Air Hitam, Samarinda. Molornya operasional ini berbenturan dengan ketentuan jam kerja mesin yang semestinya aktif penuh pada pukul 08.00 – 16.00 WITA

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda menyampaikan laporan hasil evaluasi pengoperasian 10 unit mesin pembakar sampah atau insinerator yang tersebar di wilayah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Pengoperasian mesin-mesin tersebut dilakukan secara bertahap sejak awal tahun hingga beroperasi serentak penuh pada pertengahan tahun ini.

Muhammad Taufiq Fajar, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLH Samarinda, menjelaskan seluruh unit insinerator mulai dijalankan secara bertahap sejak Januari 2026 dan baru dioperasikan penuh secara bersamaan pada Juni 2026.

“Januari sampai di bulan Juni itu kita masih proses-proses training, terus proses uji coba mesin, dan sebagainya. Jadi beroperasinya satu per satu, tidak serentak bersamaan. Di bulan Juni baru dilaksanakan serentak secara bersamaan,” kata Taufiq, Senin (12/10/2026).

Berdasarkan data akumulasi evaluasi DLH Samarinda dari Januari hingga Juli 2026, total hari kerja operasional dari 10 mesin tersebut mencatatkan angka sekitar 301 hari. Pengoperasian awal dimulai dari TPST Insinerator Air Hitam serta TPST Insinerator Ring Road 2, kemudian disusul kawasan Bukit Pinang, hingga berlanjut ke TPST Insinerator Tani Aman dan Simpang Pasir.

Selama periode tujuh bulan tersebut, total sampah yang berhasil dimusnahkan oleh 10 unit insinerator mencapai 750,36 ton. Meski berhasil menyumbang pengurangan sampah ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir), angka rata-rata pembakaran harian masih berada di kisaran 2,49 ton per hari. Capaian ini dinilai masih berada di bawah kapasitas ideal mesin yang dirancang mampu mengolah hingga 8 ton sampah per unit dalam 8 jam kerja.

Taufiq mengungkapkan bahwa rendahnya tonase pembakaran tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor teknis dan operasional di lapangan. Salah satu kendala utama adalah masalah pemilahan sampah yang belum optimal dari sumbernya (mixed waste), sehingga petugas operator harus menghabiskan waktu hingga beberapa hari hanya untuk memilah secara manual sebelum proses pembakaran dimulai.

“Kendala kedua, sampah campur dari TPST masih menjadi kendala karena akhirnya menghabiskan waktu untuk pemilahan. Kalau misalnya dihitung 8 jam kerja bisa menghabiskan 8 ton, tapi ketika sampah campur datang, kita perlu waktu untuk memilahnya saja bisa sampai 3 hari. Jadi kami belum bisa bakar, 3 hari itu kami hanya memilah dulu,” ujar Taufiq.

Selain faktor alur pemilahan sampah, kepatuhan petugas terhadap standar operasional prosedur (SOP) serta keberadaan residu sampah organik turut menjadi tantangan. Pemilahan manual kerap membuat material berbahan karet atau plastik kecil tidak terdeteksi sehingga menimbulkan asap hitam saat proses pembakaran. Di sisi lain, belum tersedianya fasilitas pengolahan sampah organik terpadu di lokasi TPST Insinerator membuat dua pertiga volume sampah tidak bisa dibakar dan harus diangkut kembali ke TPA.

Sebagai langkah perbaikan dan optimalisasi, DLH Samarinda kini tengah menjalankan pilot project (proyek percontohan) pemilahan sampah di TPST Bangka serta menjalin kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) dan pihak penyedia (vendor) untuk mengkaji penyempurnaan teknis mesin insinerator.

“Seandainya ada wadah pengolahan sampah organik di lokasi TPST Insinerator mungkin akan lebih maksimal. Artinya yang bisa dibakar-dibakar, sampah organiknya diolah di TPST Insinerator, jadi nanti yang dibawa ke TPA tinggal hanya residunya saja. Di samping itu kami masih lakukan kajian dengan teman-teman dari UMKT kemudian juga masih berkomunikasi dengan vendor untuk memaksimalkan beberapa temuan kami di lapangan yang mungkin bisa menyempurnakan mesin insineratornya,” pungkas Muhammad Taufiq Fajar.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024