Tangani Karhutla Hingga Ancaman Gagal Tanam, Pemkot Samarinda Geber Modifikasi Cuaca dan Air Void Tambang

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus memperluas jangkauan penanganan masa tanggap darurat bencana kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Selain memadamkan titik api di lapangan, intervensi pemerintah kini merambah pada penyelamatan ratusan hektare lahan pertanian warga hingga persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, membeberkan bahwa strategi pembuatan hujan buatan kini siap dieksekusi setelah armada pesawat dan puluhan ton bahan semai tiba di daerah.

“Sesuai instruksi Kepala BNPB, sekecil apa pun peluang pembentukan awan harus langsung kita maksimalkan dengan OMC. Pesawat disiagakan di Bandara APT Pranoto bersama 60 ton garam dari Danlanud Dhomber. Pemantauan kita lakukan nonstop 24 jam mulai 15 hingga 19 September 2026 mengikuti prakiraan cuaca dari BMKG,” ujar Suwarso, Selasa (15/9/2026).

Selain ancaman karhutla yang tercatat mencapai 185 kejadian dengan luas lahan terbakar 382,93 hektare terutama di wilayah Palaran, Sambutan, dan Samarinda Utara, krisis air juga mengancam produktivitas sektor pangan. Sebanyak 654 hektare lahan sawah berpotensi mengalami gagal tanam akibat kekeringan di awal musim tanam September ini.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Samarinda mengambil langkah taktis dengan mengalirkan air dari kolam bekas tambang (void) yang telah lolos uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda.

“Dari total lahan terancam, sebanyak 207 hektare sawah di Makroman, Serayu, dan Bantuas berhasil diselamatkan dengan pasokan air void ex-tambang. Berdasarkan hasil survei DLH, kualitas airnya sangat aman untuk irigasi tanaman padi, walaupun belum layak dipakai untuk kebutuhan MCK warga,” tutur Suwarso.

Sementara untuk pemenuhan kebutuhan domestik, Satuan Tugas (Satgas) Kebencanaan telah menyalurkan 880.100 liter air bersih menggunakan 16 unit armada tangki ke 180 titik terdampak.

“Prioritas utama pasokan air bersih kita arahkan ke fasilitas publik seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah, dan tempat ibadah. Guna memangkas antrean di permukiman, kami sedang menambah 20 unit tandon yang dimuat di atas truk milik Dinas PUPR,” katanya.

Terkait maraknya pemicu kebakaran lahan, Suwarso menegaskan penanganan di tingkat hilir juga diimbangi dengan proses hukum tegas dari aparat Kepolisian terhadap oknum yang sengaja membakar lahan.

“Informasi yang kita terima sudah ada sekitar delapan pelaku yang diamankan, termasuk pada kasus di area ex-Bandara Temindung. Langkah tegas ini sangat penting untuk memberi efek jera, karena aksi pembakaran sengaja ini merusak kualitas udara, mengganggu kesehatan anak sekolah, serta menguras energi petugas dan relawan yang harus berjibaku hingga tengah malam,” tegas Suwarso.

Adapun anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) selama perpanjangan tanggap darurat hingga 21 September dipastikan teralokasi secara akuntabel untuk operasional BBM mobil tangki, pengadaan tandon, logistik petugas, hingga jaminan kesehatan bagi para relawan.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024