SAMARINDA, Swarakaltim.com – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mengolah abu sisa pembakaran sampah dari 10 unit mesin pembakar sampah atau insinerator menjadi produk bernilai ekonomis tinggi seperti paving block masih menemui kendala teknis. Upaya pemanfaatan puluhan ton abu residu tersebut belum dapat direalisasikan akibat ditemukannya kontaminasi material kaca di dalam tumpukan abu.
Berdasarkan data akumulasi operasional periode Januari hingga Juli 2026, sebanyak 10 unit mesin insinerator di Samarinda telah menghasilkan 63 ton abu residu dari total 750,36 ton sampah yang dimusnahkan. Jumlah abu sisa tersebut tercatat menyumbang sekitar 8,40 persen dari keseluruhan volume sampah yang dibakar.
Muhammad Taufiq Fajar, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda menjelaskan bahwa kajian akademis yang dilakukan bersama Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) menemukan masih tingginya kandungan pecahan kaca di dalam abu sisa pembakaran.
“Ternyata hasilnya masih ada pecahan beling masuk ke dalam abunya, sehingga abunya masih kita karungin di sini,” kata Taufiq, Senin (12/10/2026).
Taufiq mengungkapkan keberadaan pecahan beling mikro tersebut berpotensi mengganggu daya rekat material serta menurunkan ketahanan dan struktur paving block. Masalah ini dipicu oleh belum optimalnya proses pemilahan sampah dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga material kaca kerap ikut masuk ke dalam ruang pembakaran.
Saat ini, fasilitas TPST dengan metode pemilahan yang tergolong representatif baru tersedia di kawasan Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang. Sementara di titik-titik lokasi insinerator lainnya, ketiadaan sistem pemilahan TPST membuat sampah anorganik dan material berbahaya masih bercampur saat proses pengolahan berlangsung.
Guna memanfaatkan potensi ekonomi dari puluhan ton residu tersebut, DLH Kota Samarinda kini mengalihkan fokus pengujian teknis ke opsi lain, salah satunya memproyeksikan abu insinerator sebagai bahan campuran pengaspalan jalan.
“Karena kita memang berharap abu dari pembakaran sampah di insinerator ini memiliki nilai ekonomis. Di samping itu kami terus melakukan kajian dan pengujian teknis agar sisa pembakaran ini benar-benar aman serta memiliki kelayakan untuk dimanfaatkan kembali,” pungkas Muhammad Taufiq Fajar.(DHV)