Perkuat Pendidikan Anak di Batu Besaung, Akademisi Unmul Gandeng Sekolah Rimba Dorong Pengembangan SDM Sejak Dini

Dokumentasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat Universitas Mulawarman bersama pengelola Sekolah Rimba Samarinda di kawasan Batu Besaung.

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Rosyid Nurrohman, S.M., M.AB., menggandeng Sekolah Rimba Samarinda melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Eco Storytelling Rimba Bekesah di kawasan Batu Besaung, Samarinda. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung akses pendidikan anak usia dini sekaligus memperkuat peran komunitas dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Kolaborasi tersebut dilatarbelakangi oleh masih adanya anak-anak di wilayah Batu Besaung yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Persoalan ekonomi keluarga, jarak menuju fasilitas pendidikan, serta keterbatasan transportasi menjadi tantangan bagi sebagian orang tua yang ingin memberikan kesempatan belajar kepada anak-anak mereka.

Melalui pendekatan pembelajaran kreatif berbasis cerita dan lingkungan, kegiatan Eco Storytelling Rimba Bekesah diarahkan untuk mendukung pengalaman belajar anak sekaligus memperkuat keterlibatan relawan dan pengelola Sekolah Rimba dalam menyediakan pendidikan berbasis komunitas.

Founder Sekolah Rimba Samarinda, Yurni Handayani, mengungkapkan bahwa Sekolah Rimba didirikan pada Juli 2025 sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan usia dini secara memadai.

“Memang awal mulanya Sekolah Rimba ini berdiri karena melihat anak-anak yang ada di daerah Batu Besaung ini tidak terfasilitasi pembelajaran untuk anak usia dininya,” ungkap Yurni.

Menurutnya, sejumlah keluarga sebenarnya memiliki keinginan menyekolahkan anak-anak mereka. Namun, keterbatasan biaya dan jauhnya akses menuju fasilitas pendidikan membuat keinginan tersebut sulit diwujudkan.

Kondisi itu mendorong Yurni bersama timnya menghadirkan ruang belajar alternatif yang memungkinkan anak-anak memperoleh pengalaman pendidikan tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke pusat kota.

Pada awal pendiriannya, Sekolah Rimba hanya diikuti sekitar 10 anak. Untuk memperluas jangkauan, para pengelola kemudian mendatangi rumah-rumah warga guna mengajak keluarga yang memiliki anak berusia tiga hingga enam tahun agar ikut dalam kegiatan pembelajaran.

Gambar 2. Founder Sekolah Rimba Samarinda, Yurni Handayani, menjelaskan latar belakang pendirian dan tantangan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini di Batu Besaung.

Meski telah berjalan sejak 2025, kegiatan pembelajaran di Sekolah Rimba masih dilaksanakan setiap hari Minggu. Keterbatasan tersebut disebabkan sebagian besar tenaga pengajar merupakan relawan yang memiliki pekerjaan utama pada hari kerja.

Selain persoalan waktu, ketersediaan tenaga pengajar dan dukungan pembiayaan juga menjadi tantangan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran secara berkelanjutan.

“Untuk voluntir pun masih gratis ya, masih sukarela, masih memang niatnya hanya untuk beramal, memberikan ilmu, berbagi dengan anak-anak yang ada di Sekolah Rimba,” jelasnya.

Sementara itu, dari perspektif akademisi Universitas Mulawarman Rosyid Nurrohman, keberadaan Sekolah Rimba memperlihatkan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dalam mendukung keberlanjutan pendidikan.

Pengembangan SDM dalam pendidikan komunitas tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan belajar anak, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi relawan, penguatan kemampuan pengelolaan organisasi, dan keberlanjutan program pembelajaran.

Melalui pendekatan tersebut, kolaborasi perguruan tinggi dengan komunitas pendidikan dapat menjadi sarana untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam membangun kapasitas individu dan kelembagaan.

Gambar 3. Suasana diskusi antara tim pengabdian Universitas Mulawarman dan pengelola Sekolah Rimba Samarinda mengenai pengembangan kegiatan pendidikan berbasis komunitas.

Kegiatan Eco Storytelling Rimba Bekesah juga menjadi ruang untuk memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang lebih kreatif dan dekat dengan lingkungan anak. Penggunaan cerita dan tema lingkungan berpotensi membantu anak mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berkomunikasi, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Bagi pengelola dan relawan, pendekatan pembelajaran tersebut dapat menjadi alternatif dalam mengembangkan aktivitas pendidikan yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini dan kondisi fasilitas yang tersedia.

Peningkatan kemampuan relawan menjadi aspek yang tidak kalah penting. Keberlanjutan pendidikan berbasis komunitas membutuhkan tenaga pendamping yang mampu merancang kegiatan belajar, memahami kebutuhan anak, dan bekerja sama dalam pengelolaan program.

Karena itu, penguatan kapasitas relawan dan pengelola dapat menjadi salah satu arah pendampingan yang relevan bagi Sekolah Rimba ke depan.

Gambar 4. Dokumentasi keterlibatan akademisi, mahasiswa, dan pengelola Sekolah Rimba Samarinda dalam kegiatan kolaborasi pendidikan berbasis masyarakat.

Yurni berharap keberadaan Sekolah Rimba tidak hanya bertahan sebagai kegiatan belajar sukarela, tetapi juga dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang lebih terstruktur dan mampu menjangkau lebih banyak anak.

Ia menginginkan adanya dukungan yang memungkinkan kegiatan pembelajaran dilaksanakan lebih sering, tidak hanya pada hari Minggu seperti yang berlangsung selama ini.

“Harapan buat ke depan semoga tidak berhenti sampai di sini. Jadi bisa berkembang entah nanti jadi sekolahkah, atau kemudian bisa terdaftar di Dinas Pendidikan,” harapnya.

Yurni juga berharap semakin banyak pihak memberikan perhatian terhadap keberadaan Sekolah Rimba, terutama dalam membantu mengatasi keterbatasan tenaga pengajar, fasilitas, dan kebutuhan operasional pendidikan.

Kolaborasi Universitas Mulawarman dengan Sekolah Rimba Samarinda memperlihatkan peluang penguatan pendidikan berbasis komunitas melalui keterlibatan perguruan tinggi. Selain mendukung akses pembelajaran bagi anak-anak di wilayah Batu Besaung, kerja sama semacam ini dapat menjadi langkah awal pengembangan kapasitas relawan dan pengelola agar kegiatan pendidikan memiliki keberlanjutan.

Penguatan sumber daya manusia, dukungan kemitraan, dan pendampingan pengelolaan menjadi aspek penting agar Sekolah Rimba dapat terus berkembang sebagai ruang belajar yang memberikan manfaat bagi anak-anak dan masyarakat sekitar.(*)

www.swarakaltim.com @2024