Saya Ingin Jadi Guru, Tidak Mau Pacaran Dulu!” Voicekeepers Kaltim Sulut Semangat Anak Pesisir Lawan Perkawinan Anak

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dalam upaya mencegah perkawinan anak yang masih marak terjadi di wilayah pesisir Kalimantan Timur, Voicekeepers Kalimantan Timur menggelar kegiatan edukasi dan sosialisasi empat hak anak di Kampung Tenun, Samarinda Seberang, pada Sabtu (11/1/26).

Kegiatan yang diinisiasi oleh tim Voicekeepers di bawah naungan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan UNICEF Indonesia ini merupakan respons terhadap tingginya angka perkawinan anak di kawasan pesisir. Berdasarkan laporan dari berbagai sumber terutama www.dw.co, wilayah pesisir masih menjadi lokasi dengan kerentanan tinggi terhadap praktik perkawinan anak akibat faktor ekonomi, putus sekolah, dan minimnya pemahaman masyarakat tentang dampak perkawinan anak.

Ashifa, Dinda, dan Safira, panggilan akrab para penggerak Voicekeepers Kaltim, memulai kegiatan dengan mengenalkan empat hak dasar anak kepada anak setempat yang hadir. Keempat hak tersebut meliputi hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa mereka punya hak untuk berkembang dengan baik, tidak boleh dipaksa menikah dini, dan berhak mengejar cita-cita mereka,” ujar Ashifa, salah satu fasilitator kegiatan.

Setelah sesi pengenalan, anak-anak diajak untuk mengekspresikan dan mempresentasikan cita-cita mereka masing-masing. Dalam sesi berbagi pengalaman, beberapa anak menceritakan kondisi pendidikan dan ekonomi keluarga mereka. Tak sedikit yang menyebutkan ada teman atau saudara mereka yang terpaksa menikah di usia anak sehingga putus sekolah.

Raisa, seorang anak berusia 11 tahun yang ikut dalam kegiatan tersebut, mengungkapkan tekadnya dengan penuh semangat.

“Saya bercita-cita menjadi guru, dan tidak ingin pacaran dulu. Mau fokus mengejar mimpi dan membanggakan orang tua,” kata Raisa dengan mantap.

Pernyataan Raisa mendapat sambutan positif dari teman-temannya yang juga termotivasi untuk fokus mencapai cita-cita bersama. Suasana semakin ceria ketika para fasilitator mengajak anak-anak bermain dan bernyanyi untuk memotivasi mereka agar terus bersekolah dan menghindari perkawinan anak.

Dinda, fasilitator lainnya, menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran sejak anak tentang pentingnya pendidikan dan bahaya perkawinan anak.

“Kami sangat senang melihat tanggapan adik-adik. Mereka mulai memahami hak-hak mereka dan semakin termotivasi untuk melanjutkan sekolah,” ungkap Dinda.

Sebagai bentuk apresiasi, para fasilitator memberikan reward berupa bingkisan snack kepada anak-anak yang aktif dalam kegiatan tersebut.

perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia, terutama di wilayah pesisir yang menghadapi berbagai tantangan sosial-ekonomi. Laporan dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa kawasan pesisir seperti Bontang, Samarinda Seberang, dan wilayah kepulauan lainnya memiliki tingkat perkawinan anak yang relatif tinggi. Faktor ekonomi, putus sekolah, serta minimnya literasi orang tua menjadi pemicu utama.

Kegiatan seperti yang dilakukan Voicekeepers Kaltim diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mengubah pola pikir masyarakat dan mencegah praktik perkawinan anak yang berdampak buruk bagi masa depan anak-anak Indonesia.

“Kami akan terus konsisten melakukan edukasi seperti ini, karena anak-anak adalah masa depan bangsa. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan tumbuh kembang yang optimal,” pungkas Safira menutup kegiatan hari itu. (ad)

www.swarakaltim.com @2024