Doomscrolling: Kenapa Kita Susah Berhenti Scroll TikTok Padahal Sudah Ngantuk?

Swarakaltim.com – Kita semua pernah mengalaminya, lampu kamar sudah mati, badan sudah rebahan di bawah selimut, dan mata sebenarnya sudah terasa berat. Niatnya cuma mau cek satu atau dua video TikTok sebelum tidur, tapi tiba-tiba boom sudah jam 2 pagi. Mata perih, jempol masih terus scrolling, dan besok pagi kita harus bangun pagi untuk kuliah atau kerja dengan kondisi “zombie”.

Fenomena ini dikenal dengan istilah Doomscrolling atau Revenge Bedtime Procrastination. Tapi, kenapa sih otak kita seolah “dikunci” oleh algoritma sampai susah sekali buat berhenti?

Jebakan Dopamin dalam Genggaman

Secara ilmiah, alasan utama kita terjebak adalah karena desain aplikasi seperti TikTok memicu sistem reward di otak kita.

Para ahli psikologi menyebutkan bahwa video pendek dengan format random menciptakan Variable Reward Schedule. Menurut B.F. Skinner, seorang psikolog perilaku ternama, manusia akan lebih terobsesi pada sesuatu yang hadiahnya tidak tertebak. Saat kamu scroll, kamu tidak tahu video berikutnya akan lucu, sedih, atau informatif. Rasa penasaran itulah yang membuat otak terus-menerus melepas Dopamin zat kimia yang bikin kita merasa senang dan “ketagihan”.

Kenapa Terjadi Saat Malam Hari?

Bagi kelahiran 2003-2004 yang baru mulai masuk dunia kerja atau semester akhir kuliah, siang hari seringkali terasa penuh dengan tuntutan orang lain. Di sinilah muncul istilah Revenge Bedtime Procrastination.

Menurut dr. Sierra Hill, seorang pakar tidur, kita melakukan ini sebagai bentuk “balas dendam” karena tidak punya kendali atas waktu kita di siang hari. Malam hari adalah satu-satunya waktu di mana kita merasa bebas, dan scrolling TikTok adalah cara termudah (dan termurah) untuk mendapatkan hiburan instan tanpa harus keluar tenaga.

Algoritma yang “Terlalu Mengenalmu”

Berbeda dengan media sosial zaman dulu, algoritma sekarang dirancang untuk menciptakan kondisi Flow State yang negatif. Mihaly Csikszentmihalyi, pakar psikologi yang mencetuskan teori Flow, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi ketika seseorang saking asyiknya melakukan sesuatu sampai lupa waktu dan keberadaan dirinya sendiri.

Masalahnya, TikTok sangat pintar menyajikan konten yang 100% sesuai minatmu. Saat kamu sudah masuk ke zona ini, bagian otak yang berfungsi untuk mengambil keputusan logis (Prefrontal Cortex) seolah-olah “tidur” lebih dulu, sementara jempolmu terus bekerja secara otomatis.

Dampak Nyata di Zaman Sekarang

Selain mata panda dan bangun kesiangan, doomscrolling sebelum tidur punya efek jangka panjang:

• Blue Light Interference: Cahaya biru dari HP menekan produksi melatonin (hormon tidur), sehingga meskipun kamu akhirnya tidur, kualitas tidurmu tidak akan maksimal.

• Mental Fatigue: Alih-alih istirahat, otakmu justru dipaksa memproses ribuan informasi singkat dalam satu waktu. Inilah yang bikin kita sering merasa “lelah mental” meskipun seharian tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Cara “Putus Hubungan” dengan HP Sebelum Tidur

Kalau kamu merasa sudah di tahap yang mengganggu produktivitas, cobalah beberapa langkah kecil ini:

1. Atur Screen Time Limit: Gunakan fitur bawaan HP untuk mengunci aplikasi setelah jam 11 malam.

2. Jauhkan Charger dari Kasur: Jika HP tidak berada dalam jangkauan tangan saat rebahan, rasa malas untuk mengambilnya akan mengalahkan keinginan untuk scrolling.

3. Ganti dengan “Micro-Habit”: Coba baca buku atau dengerin podcast yang membosankan. Tujuannya adalah membuat otak merasa rileks, bukan malah terstimulasi.

Doomscrolling memang cara yang asyik buat melepas penat, tapi ingat, badanmu punya hak untuk istirahat yang berkualitas. Jangan biarkan algoritma mencuri waktu tidurmu malam ini.

Penulis: Aldyaksa Jaka Utama (aksa)

www.swarakaltim.com @2024