TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Selain beras, Kabupaten Berau juga memiliki gula lokal yang bahan baberaukunya murni dari tebu asi tanpa tambahan zat kimia dalam proses pemurniannya. Namun sayang penampilan fisik gula produksi daerah tercinta ini berwarna kekuningan sehingga dianggap kurang menarik oleh masyarakat.
Hal itu menyebabkan minat masyarakat terhadap gula lokal rendah, padahal dari segi kualitas rasa lebih terjamin manisnya dari gula rafinasi bermerek yang tampak lebih putih.
“Jadi, kalau kita mengkonsumsi gula tebu murni selain cepat manis, hemat dan untuk kesehatannya dapat. Ditambah harga terjangkau, tetapi tampilannya memang kurang menarik akibat warna gulanya yang kekuningan,” ungkap Asisten Manajer Operasional Bulog Cabang Berau, Ade Anggoro, Jumat (23/1/2026).
“Oleh sebab itu kami berupaya mendorong peningkatan daya tarik gula lokal ini, agar menarik pembeli kedepanya. Lalu, edukasi kepada masyarakat dan distributor akan keunggulan gula local juga terus dilakukan, terutama melalui kegiatan pasar murah,” ujar Ade lagi.
Masih menurutnya, gula lokal yang dihasilkan dari tebu murni memang memiliki karakter alami berwarna kuning kecokelatan, berbeda dengan gula rafinasi bermerek yang tampak lebih putih. Perbedaan visual inilah yang kerap memengaruhi persepsi konsumen.
“Secara kualitas dan fungsi, gula lokal sangat layak konsumsi. Namun, masyarakat masih menilai dari tampilan, sehingga gula yang tidak putih sering dianggap kurang bagus,” jelasnya.
Bulog mendorong adanya peningkatan pada sisi pengemasan dan edukasi kepada masyarakat agar memahami perbedaan antara gula alami dan gula rafinasi. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing gula lokal sekaligus mendukung produk pangan berbasis potensi daerah.
“Karena upaya tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pemanfaatan produk pangan lokal untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” imbuh Ade Anggoro sekaligus menjawab pertanyaan. (Nht/Bintang)