
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Kebijakan efisiensi anggaran yang mulai diberlakukan sejak Tahun Anggaran 2026 dinilai berdampak langsung terhadap alokasi dana kampung (ADK). Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Berau, Subroto meminta seluruh kampung di Kecamatan Sambaliung mulai berbenah dan berinovasi dengan menggali Pendapatan Asli Kampung (PAK) agar tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah daerah.
Hal tersebut disampaikan Subroto saat memberikan tanggapan atas aspirasi para kepala kampung dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sambaliung yang digelar di Halaman Kantor Kecamatan Sambaliung, Sabtu (7/2/2026).
Dalam pernyataannya, Subroto mengakui bahwa kebijakan pemotongan anggaran tidak bisa dihindari dan akan terasa hingga ke tingkat kampung. Ia menyebutkan bahwa mulai 2026 hingga perencanaan anggaran 2027, pemerintah daerah menghadapi keterbatasan fiskal yang mengharuskan dilakukan penyesuaian belanja.
“Kami memahami keluhan para kepala kampung. Namun memang harus kami sampaikan bahwa anggaran 2026 sudah banyak mengalami pemotongan, dan kondisi ini berpotensi berlanjut di 2027,” ujarnya.
Menurut Subroto, situasi tersebut menjadi tantangan sekaligus momentum bagi kampung-kampung untuk tidak lagi hanya mengandalkan dana transfer dari pemerintah. Ia menilai masih banyak kampung yang belum memiliki atau belum mengoptimalkan PAK sebagai sumber pembiayaan mandiri.
“Saya tadi belum melihat atau mendengar secara jelas kampung-kampung di Sambaliung ini memiliki PAK. Padahal di wilayah pesisir, ada kampung yang sudah mampu menghasilkan Rp30 juta, bahkan ada yang sampai Rp1 miliar dari penghasilan asli kampungnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kemandirian fiskal kampung menjadi kunci agar kebutuhan dasar desa tetap dapat terpenuhi meskipun dana bantuan mengalami pengurangan. Dengan adanya PAK, kampung diharapkan mampu membiayai sebagian besar kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat secara mandiri.
“Harapan kami, ke depan kampung tidak terlalu bergantung pada bantuan. Kalau kampung punya penghasilan sendiri, maka kebutuhan desa bisa lebih mudah terakomodir dari anggaran yang bersumber dari kampung itu sendiri,” tegas Subroto.
Lebih lanjut, Wakil Rakyat dari Partai Golongan Karya (Golkar) tersebut menilai Berau, termasuk Kecamatan Sambaliung, memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal. Mulai dari sektor pariwisata, pertanian, perikanan, hingga potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dinilai bisa menjadi sumber PAK jika dikelola dengan serius dan berkelanjutan.
“Potensi Berau ini masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Ada potensi wisata, potensi pertumbuhan ekonomi, dan potensi lainnya. Tinggal bagaimana kampung mau menggali dan memaksimalkannya,” jelasnya.
Subroto berharap, mulai tahun ini pemerintah kampung bersama masyarakat dapat lebih proaktif menyusun strategi pengembangan kampung kreatif dan unit usaha desa. Dengan demikian, kebijakan efisiensi anggaran tidak justru melemahkan pembangunan desa, tetapi mendorong lahirnya kampung-kampung yang lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
“Ini harapan kami untuk seluruh kampung, khususnya di Kecamatan Sambaliung. Mulai sekarang kita dorong kampung-kampung agar benar-benar bisa mandiri,” pungkasnya. (Adv/Nht/Bin)