Israel serang Iran : Momentum Umat Islam Membangun Aliansi Kekuatan untuk Bersatu

@Masykur Sarmian Ketua Fokal IMM Kalimantan Timur


SWARAKALTIM.COM – Sabtu pagi, 28 Februari 2026, Israel benar-benar benar menyerang Teheran Iran, sebuah langkah nekad dan sikap yang penuh arogan akibatĀ  ambisi negara, bahwa tak boleh ada kekuatan lain di kawasan yang tidak mau tunduk oleh hegemoni politik Israel dan sekutunya. Sungguh ini tidak mungkin dilakukan Israel, bila tanpa back up total Amerika sebagai sekutu abadinya.

Dalam sejarah panjang peradaban, sering kali sebuah peristiwa geopolitik bukan sekadar benturan kekuatan militer, melainkan lonceng keras yang menggugah kesadaran suatu umat. Serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam berbagai bentuk tekanan, operasi militer, maupun eskalasi konflik Kawasan tidak hanya merupakan episode dalam peta konflik Timur Tengah.

Ia adalah cermin besar yang memantulkan satu kenyataan pahit : bahwa dunia Islam masih berdiri dalam kondisi yang terfragmentasi, tercerai dalam kepentingan nasional yang sempit, dan sering kali gagal membaca ancaman besar dengan kacamata peradaban. Di tengah badai geopolitik itu, umat Islam sesungguhnya sedang diuji bukan hanya kekuatan militernya, tetapi kedewasaan visi strategisnya.

Jika menelusuri sejarah umat, kita akan menemukan satu pola yang hampir selalu berulang: ketika umat terpecah, kekuatan eksternal dengan mudah memainkan politik keseimbangan kekuasaan di antara mereka. Inilah yang dahulu terjadi pada masa akhir kekhalifahan Abbasiyah, ketika intrik internal membuka jalan bagi kehancuran Baghdad. Inilah pula yang terjadi pada masa kolonialisme, ketika kekuatan Barat memanfaatkan rivalitas kesultanan-kesultanan Muslim.

Sejarah seakan berbisik dengan nada getir: perpecahan internal lebih berbahaya daripada tekanan eksternal. Maka setiap konflik yang melibatkan negara-negara Muslim seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tragedi politik, tetapi sebagai alarm peradaban peringatan bahwa tanpa persatuan strategis, umat akan terus menjadi arena permainan kekuatan global.

 

Namun di balik setiap krisis, sejarah juga selalu menyimpan kemungkinan kebangkitan. Justru dari tekanan eksternal sering lahir kesadaran kolektif untuk bersatu. Kita pernah menyaksikan bagaimana masa Perang Salib yang semula memecah belah dunia Islam akhirnya melahirkan kepemimpinan yang mampu menyatukan umat, seperti yang dilakukan oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Dari situ sejarah mengajarkan bahwa tekanan geopolitik dapat berubah menjadi energi konsolidasi, selama ada kesadaran intelektual dan kepemimpinan visioner yang mampu mengubah kemarahan menjadi strategi, dan emosi menjadi energi peradaban.

Hari ini dunia Islam membutuhkan lebih dari sekadar retorika solidaritas. Ia membutuhkan arsitektur aliansi kekuatan. Aliansi itu tidak harus selalu berbentuk blok militer, tetapi dapat dimulai dari kerja sama ekonomi strategis, integrasi teknologi, kemandirian energi, hingga diplomasi kolektif di panggung global. Negara-negara Muslim sesungguhnya memiliki sumber daya luar biasa: cadangan energi terbesar dunia, populasi lebih dari seperempat umat manusia, serta posisi geografis yang menghubungkan tiga benua. Namun potensi itu sering kali tercerai karena tidak ada visi bersama yang mengikatnya dalam satu orientasi strategis.

Di sinilah peran kaum intelektual, ulama, dan pemimpin gerakan menjadi sangat menentukan. Mereka harus mampu menggeser paradigma umat dari sekadar reaksi emosional terhadap konflik menuju kesadaran geopolitik yang matang. Umat Islam tidak boleh terus-menerus berada dalam posisi reaktif, hanya merespons setiap serangan atau tekanan. Sebaliknya, umat harus belajar menjadi aktor yang proaktif merancang masa depan geopolitiknya sendiri, membangun jaringan kekuatan ekonomi, memperkuat kemandirian teknologi, serta menciptakan solidaritas politik yang melampaui sekat mazhab dan nasionalisme sempit.

Lebih jauh lagi, persatuan umat tidak bisa dibangun hanya di tingkat negara. Ia harus dimulai dari kesadaran kultural dan spiritual di tingkat masyarakat. Persatuan bukan sekadar proyek diplomasi, tetapi proyek peradaban. Ia lahir dari kesadaran bahwa umat ini memiliki takdir sejarah yang sama : menjadi saksi bagi kemanusiaan, sebagaimana digambarkan dalam konsep ummatan wasathan. Tanpa kesadaran itu, persatuan akan selalu rapuh, mudah runtuh oleh perbedaan kepentingan sesaat.

Membaca Konflik dengan Lensa Analitis

Eskalasi konflik kawasan yang melibatkan Israel, Iran, dan kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat harus dibaca secara lebih jernih dan komprehensif. Situasi ini bukan sekadar perkembangan militer biasa, melainkan fenomena kompleks yang memiliki beberapa dimensi penting : dimensi geopolitik, keamanan kawasan, kemanusiaan, serta stabilitas peradaban global.

  1. Dimensi Geopolitik : Konflik yang Melampaui Dua Negara

Konflik antara Israel dan Iran sesungguhnya bukan sekadar pertikaian bilateral. Ia merupakan bagian dari arsitektur konflik geopolitik Timur Tengah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Israel memandang Iran sebagai ancaman strategis utama, terutama terkait program nuklir dan jaringan aliansi regional yang dimiliki Iran di berbagai kawasan Timur Tengah. Sementara Iran memandang Israel sebagai simbol hegemoni dan penjajahan yang harus dilawan.

Karena itu, setiap eskalasi antara kedua negara hampir selalu berpotensi menarik aktor-aktor besar lainnya. Keterlibatan Amerika Serikat menjadi sangat mungkin karena hubungan strategisnya dengan Israel. Dalam konteks ini, konflik lokal dapat dengan cepat berubah menjadi konflik regional bahkan global.

  1. Dimensi Keamanan Kawasan : Potensi Perang Multi-Front

Yang membuat situasi semakin sensitif adalah kemungkinan terbukanya banyak front konflik. Timur Tengah merupakan kawasan yang sangat terhubung secara politik dan militer. Jika konflik meluas, berbagai kelompok dan negara di kawasan bisa ikut terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

Akibatnya, kawasan dapat memasuki fase perang multi-front yang sulit dikendalikan. Dampaknya tidak hanya pada keamanan militer, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global, terutama terkait jalur energi dan perdagangan internasional.

  1. Dimensi Kemanusiaan : Ancaman bagi Masyarakat Sipil

Dalam setiap konflik berskala besar, korban terbesar hampir selalu adalah masyarakat sipil. Infrastruktur hancur, ekonomi terguncang, dan kehidupan sosial masyarakat mengalami trauma berkepanjangan. Karena itu, kekhawatiran terhadap dampak konflik ini sangat beralasan, sebab peperangan yang berkepanjangan hampir selalu meninggalkan krisis kemanusiaan yang mendalam.

Harapan akan lenyapnya penjajahan dan terwujudnya keamanan serta keadilan bukan sekadar retorika moral, tetapi refleksi dari aspirasi universal umat manusia yang menginginkan perdamaian yang berkeadilan.

  1. Perspektif Peradaban : Ujian bagi Stabilitas Dunia

Konflik ini juga menunjukkan bahwa dunia modern masih menghadapi persoalan besar: ketidakstabilan geopolitik dan kegagalan sistem internasional dalam mencegah konflik besar. Dalam era globalisasi, konflik regional tidak pernah benar-benar lokal. Ia dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, keamanan energi, hingga dinamika politik global.

Karena itu, upaya diplomasi internasional, dialog lintas negara, dan tekanan global untuk mencegah eskalasi menjadi sangat penting. Tanpa langkah-langkah tersebut, konflik berpotensi berkembang menjadi krisis yang jauh lebih luas.

Penutup : Dari Krisis Menuju Kesadaran Peradaban

Konflik yang melibatkan kekuatan global di kawasan Muslim pada akhirnya menghadirkan satu pertanyaan besar bagi umat Islam: apakah mereka akan terus menjadi penonton dalam panggung sejarahnya sendiri, ataukah bangkit menjadi aktor yang menentukan arah masa depan ?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak terletak pada kekuatan senjata semata, tetapi pada kemampuan umat membangun kesatuan visi, kesatuan strategi, dan kesatuan tujuan. Persatuan yang lahir dari kesadaran peradaban akan melahirkan kekuatan yang jauh lebih kokoh daripada sekadar aliansi politik sementara.

 

Sejarah selalu memberi ruang bagi kebangkitan bagi mereka yang mampu membaca tanda-tanda zaman. Jika umat Islam mampu menjadikan setiap tekanan sebagai momentum konsolidasi, maka konflik hari ini dapat berubah menjadi titik balik sejarah. Dari serpihan perpecahan dapat lahir mosaik persatuan. Dari luka geopolitik dapat lahir kesadaran peradaban.

Dan dari keguncangan dunia yang sedang kita saksikan hari ini, mungkin akan lahir generasi baru umat yang tidak lagi hanya bereaksi terhadap Sejarah melainkan bangkit untuk menuliskannya kembali dengan tangan mereka sendiri.(*/sk)

www.swarakaltim.com @2024