Akibat Kemarau, Harga Sembako dan BBM di Muara Ancalong Mulai Melambung

MUARA ANCALONG,Swarakaltim.com – Kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kutai Timur (Kutim) mulai memukul kehidupan warga pedalaman. Debit Sungai Kelinjau menyusut, membuat kapal motor pengangkut sembako dari Samarinda tak lagi mampu menembus Muara Ancalong. Pasokan tersendat, harga sembako merangkak naik, sementara BBM semakin sulit didapat.

Kapal motor yang sebelumnya menjadi salah satu urat nadi distribusi kebutuhan pokok kini hanya mampu membawa muatan hingga Desa Senyiur. Dari titik tersebut, barang-barang kebutuhan masyarakat harus kembali didistribusikan melalui jalur darat.

Kondisi ini membuat sejumlah harga kebutuhan pokok mulai bergerak naik. Warga Muara Ancalong menyebut kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas, di antaranya gula pasir dan beras.

Rata-rata kenaikan harga sembako berkisar Rp1.000 hingga Rp2.500 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada BBM yang dijual di tingkat pengecer.

Harga BBM di tingkat pengecer disebut naik sekitar Rp2.000 per liter. Pertalite yang sebelumnya dijual sekitar Rp14.000 per liter, kini mengalami kenaikan. Itu pun belum menjamin BBM mudah diperoleh.

“Di pengecer juga kerap tidak ada atau kosong,” ujar Iman, salah seorang warga Muara Ancalong.

Untuk mendapatkan BBM dengan harga SPBU, warga terpaksa menuju SPBU di Muara Bengkal. Namun, akses tersebut juga tidak mudah karena layanan SPBU terbatas dan hanya buka pada waktu tertentu dalam sepekan.

Sebelumnya, pasokan BBM ke wilayah pedalaman masih terbantu melalui jalur sungai. Kapal motor dapat membawa BBM sekaligus kebutuhan pokok dari Samarinda hingga wilayah yang membutuhkan.

Namun, menyusutnya debit Sungai Kelinjau membuat jalur distribusi tersebut ikut terganggu. Kapal tak lagi bisa membawa pasokan hingga Muara Ancalong sehingga kebutuhan masyarakat semakin bergantung pada jalur darat.

“Kalau lewat sungai, ketersediaan BBM cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat. Sekarang terbatas,” kata Iman.

Kelangkaan BBM bahkan mulai mengganggu aktivitas warga. Iman mengaku beberapa kali tidak masuk kerja di salah satu perusahaan kelapa sawit di Muara Bengkal karena kesulitan mendapatkan BBM untuk sepeda motornya.

“Kadang mau berangkat kerja, BBM tidak ada,” ujarnya.

Bagi warga pedalaman, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan harga yang naik. Terhambatnya distribusi melalui sungai membuat kebutuhan sehari-hari semakin sulit diperoleh.

Jika kemarau dan kondisi sungai yang surut terus berlangsung, warga khawatir tekanan terhadap pasokan sembako dan BBM semakin besar. Harga barang pun berpotensi kembali naik karena biaya dan jalur distribusi menjadi semakin terbatas.

Sungai Kelinjau selama ini menjadi salah satu jalur penting bagi pergerakan barang menuju pedalaman. Ketika debitnya menyusut, dampaknya langsung terasa hingga ke warung-warung dan aktivitas harian masyarakat.(fan)

www.swarakaltim.com @2024