Anak Usia Sekolah Terpapar HIV, Disdikbud dan Komisi IV DPRD Kaltim Desak Kampanye Masif di Lingkungan Pendidikan

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Temuan kasus Orang dengan HIV (ODHIV) yang menyasar anak usia sekolah menjadi perhatian serius dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penanggulangan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Komisi IV DPRD Kaltim bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim sepakat memperkuat upaya pencegahan dan sosialisasi di lingkungan sekolah.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Muhammad Darlis Pattalongi, mengonfirmasi adanya temuan kasus HIV yang menginfeksi anak-anak usia sekolah berdasarkan laporan resmi dari rumah sakit rujukan di Kaltim.

“Meskipun data pastinya dirahasiakan, laporan dari RSUD AWS dan Kanujoso mencatat ada anak-anak usia sekolah dasar hingga SMA yang terdeteksi HIV. Bahkan Plt Direktur RSUD AWS menyampaikan ada pasien hamil yang bayinya berpotensi besar terpapar virus tersebut. Ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan generasi muda, sehingga kampanye pencegahan di sekolah-sekolah harus diintensifkan,” ujar Darlis usai rapat di Gedung E Kantor DPRD Kaltim, Rabu (16/9/2026).

Darlis menegaskan bahwa penanganan kasus di lingkungan pendidikan serta sektor lain tidak akan berjalan maksimal jika tidak ada kelembagaan komando yang memimpin kerja kolaboratif tersebut.

“Kalau kita sepakat penanggulangan HIV ini harus melibatkan lintas sektor seperti Disdik, Disnaker, hingga Kemenag, harus ada lembaga penanggung jawabnya. Kami akan mendiskusikan dengan Biro Hukum dan Pemprov Kaltim, apakah mengaktifkan kembali Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) atau membentuk Pokja khusus. Tanpa penanggung jawab resmi, kerja kolaboratif ini tidak akan berjalan dan masing-masing instansi akan jalan sendiri-sendiri,” tegas Darlis.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Disdikbud Kaltim, Rahmat Ramadhan, membenarkan bahwa penyebaran HIV/AIDS sudah merambah ke dunia pendidikan dan menyerang anak di bawah umur.

“HIV memang tidak mengenal tempat maupun usia, dan beberapa kasus nyata terjadi di dunia pendidikan kita, bahkan sejak jenjang SD dan SMP. Mengenai data detail pasien, itu sepenuhnya menjadi kerahasiaan Dinas Kesehatan atau klinik masing-masing,” ungkap Rahmat.

Sebagai langkah taktis, Rahmat menyatakan pihak Disdikbud Kaltim siap membuka pintu seluas-luasnya bagi Dinas Kesehatan untuk melakukan tindakan pencegahan langsung di sekolah-sekolah.

“Untuk usulan pengecekan kesehatan medis secara rinci di sekolah memang belum sampai ke situ. Namun, kami di Disdikbud sangat menyambut baik dan siap memfasilitasi kapan pun Dinas Kesehatan ingin masuk ke sekolah untuk melakukan sosialisasi maupun kunjungan edukasi,” kata Rahmat.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024