Buaya Riska Dikembalikan Bukan Dilepas di Alam bebas

BONTANG, Swarakaltim.com – Pengembalian buaya Riska di Bontang, bukan untuk dilepasliarkan ke alam bebas. Melainkan ditempatkan di dalam penangkaran yang akan dibangun Pemkot Bontang.

Setelah meninjau sejumlah lokasi, tim dari Pemkot Bontang menemukan 1 lokasi ideal di Kelurahan Guntung. Tepatnya di sungai mati yang berada dekat dengan kantor kelurahan.

Di sana tim menemukan panjang sungai 100 meter. Lokasi itu ideal untuk dijadikan penangkaran. Makanya hasil dari survei akan disampaikan ke Wali Kota Bontang Basri Rase.

Hal itu disampaikan oleh Asisten II Bidang Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Lukman pada RDP di DPRD Bontang Selasa (14/11/2023).

“Setelah hasil survei pertama. Ada lokasi di Guntung tempatnya di Guntung ada sungai Kanibungan yang sengaja diputus. Itu sementara lokasi idealnya,” kata Lukman.

Lebih lanjut, Pemkot Bontang hanya mencarikan lokasi ideal. Tidak menutup kemungkinan ada lokasi baru. Karena nantinya tindaklanjut dari hasil survei ini akan disampaikan ke Pemerintah Provinsi Kaltim.

Sementara disinggung dikembalikan ke habitat aslinya tim mengaku tidak ideal. Karena akses sungai tersebut merupakan alur warga Gusung mengangkut air bersih dari Guntung.

“Jadi bukan dilepasliarkan ke alam aslinya. Dibuatkan penangkaran. Ini diisolasi tapi masih cari tempat ideal. Soalnya yang di Bontang Lestari terlalu jauh,” sambungnya.

Perwakilan warga Kelurahan Guntung Abdul Malik menyampaikan pesan masyarakat sampai saat ini menolak pengembalian buaya Riska.  Karena sebelumnya warga sudah sepakat agar buaya direlokasi agar tidak mengancam manusia yang tinggal di bantaran sungai Guntung.

“Kalau warga tetap menolak. Sampai saat ini. Warga trauma akibat insiden penyerangan buaya Agustus 2023 lalu,” ucap Abdul Malik.

Penolakan pengembalian ke Guntung juga disampaikan Camat Bontang Utara Zainuddin. Menurutnya apa yang dialami korban itu sangat memprihatinkan. Karena secara fisik sampai saat ini masih dirawat dan hanya terbaring lemah di tempat tidur. 

Kemudian alasan pengembalian buaya Riska pasti akan menimbulkan gejolak warga. Apalagi ini hanya memenuhi hajat 1 orang Youtuber yang dekat dengan buaya.

“Namanya buaya kalau lapar yang akan cari makan. Ini cuman 1 orang aja yang merasa dirugikan akibat buaya riska direlokasi. Kita lihat lah korban yang sampai saat ini masih dalam kondisi trauma,” ucap Zainuddin.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Bontang, Agus Haris menyoroti dikembalikannya Buaya Riska dilepas ke habitat semula. Agus Haris Bontang, Wakil Ketua DPRD Bontang, Agus Haris,berbeda pandangan dengan PJ Gubernur Akmal Malik, yang mengembalikan buaya Riska dikembalikan ke habitatnya. Keputusan dikembalikan predator viral itu menyalahi kesepakatan Bersama. 

Instruksi Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur Akmal Malik agar Buaya Riska dikembalikan ke habitatnya di Bontang dinilai salah besar. keputusan  Pj Gubernur yang diamini Wali Kota Bontang Basri Rase seolah mengabaikan kesepakatan

Sebelum dievakuasi ke penangkaran, lanjut AH-sapaan akrabnya- DPRD Bontang bersama warga Guntung serta Pemkot bersepakat untuk merelokasi buaya dari Guntung karena telah menelan korban.

“Keputusannya kok sepihak begitu. Pemkot juga tak bisa mengacuhkan keputusan bersama. Harus koordinasi dulu dengan dewan dan pihak terkait,” kata AH kepada media ini  Senin (13/11/2023). (adv-drpd bontang/ir)

www.swarakaltim.com @2024