BALIKPAPAN,Swarakaltim.com. Pemerintah Kota Balikpapan memiliki tantagan dalam percepatan penyediaan air baku bagi masyarakat Balikpapan mulai dari kewenangan, pembebasan lahan, hingga persoalan pembiayaan proyek besar. Namun demikian, tatangan tersebut tidak menjadi kendala dalam pelayanan air bersih untuk masyarakat kedepan, karena pemerintah kota kini mencari jalan keluarnya.
Menurut Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan, Murni, harus diakui dinamika anggaran dan proses administrasi menjadi tantangan dalam pengembangan proyek air baku di Kota Balikpapan, khususnya di wilayah Aji Raden, Balikpapan Timur.
“Untuk Aji Raden, saat ini sedang berproses di pemerintah provinsi untuk mendapatkan pelimpahan kewenangan. Dulu sudah dibebaskan tapi ada jangka waktunya, dan itu sudah habis sehingga prosesnya harus diulang dari awal,” tegasnya. Selasa (23/9/’25).
Murni mengaku, pihaknya telah mengalokasikan anggaran untuk penyelesaian pembebasan lahan. Namun, proses baru bisa dilanjutkan setelah pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur diselesaikan. Sedangkan untuk proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sepaku Semoi yang ditangani melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) juga menghadapi tantangan besar dari sisi pembiayaan.
“Total kebutuhan anggaran mencapai Rp3,7 triliun. Rinciannya, Rp1,7 triliun untuk sisi hulu, dan Rp1,9 triliun untuk hilir. Belum termasuk biaya IJP dan PPM yang mencapai Rp9,5 triliun dalam jangka waktu 30 tahun,” ujarnya.
Murni menegaskan, pihaknya akan berupaya agar pembiayaan sisi hulu bisa ditanggung oleh Pemerintah Provinsi, mengingat keterbatasan fiskal daerah. “Pemerintah pusat sudah siapkan sebagian. Tapi masih banyak pihak yang belum sepakat karena nilai investasinya sangat besar,” jelasnya.
Sementara itu, untuk air dari Sepaku Semoi nantinya merupakan air bersih, bukan air siap minum. Ini karena sistem pengolahan belum dirancang untuk menghasilkan air minum langsung.
“Distribusinya dari transmisi hingga ke pelanggan masih harus kita siapkan. Namun jika selesai, air ini bisa dimanfaatkan oleh warga mulai tahun 2028,” ujarnya.
Selain itu, untuk Sungai Wai Belum Optimal, Alternatif Disalinasi Dihadang Kendala Teknis
Sumber alternatif lain seperti Sumgai Wai belum dapat dimaksimalkan karena kompleksitas kepemilikan lahan dan perubahan titik lokasi. Selain itu, opsi desalinasi air laut juga belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat.
“Desalinasi kami targetkan bisa mulai 2026-2027, tapi ada beberapa kendala teknis yang perlu diselesaikan,” ujarnya.
Murni menambahkan, untuk kebutuhan air bersih Kota Balikpapan saat ini defisit hampir 1.000 liter per detik. Dengan kapasitas Sepaku Semoi yang mencapai 1.000 liter per detik, pasokan air diperkirakan cukup untuk 3–4 tahun ke depan. Setelah itu, Pemkot harus kembali menyiapkan sumber baru. (*/pksep4)