Riyawan
Pengamat Sosial
Swarakaltim.com – Indonesia itu negara yang super beruntung punya iklim tropis. Kita tumbuh besar bersama cuaca yang ramah, tanah yang subur, dan hujan yang hampir selalu setia datang sepanjang tahun. Dari dulu sampai sekarang, hujan adalah bagian dari identitas negeri ini, berkah yang membuat hutan kita subur dan kehidupan berjalan.
Hutan hujan tropis sebenarnya adalah “mesin alami” yang sudah bekerja otomatis sejak lama seperti menyimpan air, menyejukkan bumi, dan jadi rumah bagi jutaan makhluk hidup. Sayangnya, cara kita merawat lingkungan sering lupa mengikuti ritme alam yang sudah terbentuk sejak ribuan tahun lalu.
Banjir, Bencana yang Mendominasi Kalimantan Timur
Sepanjang 2024, Kalimantan Timur seperti “dibangunkan paksa” oleh alam. Banjir datang sampai 13 kali, menurut BNPB. Bukan Cuma sering, tapi mendominasi daftar bencana di provinsi ini.
Data BPS Kaltim (rilis 7 Februari 2025) bahkan lebih gamblang menyebutkan bahwasanya banjir adalah biang kerok terbesar. Jumlah kejadiannya jauh mengalahkan bencana jenis lain. Ini jelas tanda keras bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan cara kita mengelola ruang dan lingkungan hidup.
Kita bisa menyalahkan banyak hal, tapi satu yang pasti: bukan hujannya yang berubah. Justru kitalah yang menata tanah, kota, dan hutan dengan cara yang membuat air tidak punya ruang untuk kembali ke bumi.
Hentikan Menyalahkan Hujan, Karena Masalahnya Ada pada Kita
Kita sering lupa bahwa Indonesia memang bukan negara kemarau. Sistem alamnya dibentuk untuk berdamai dengan hujan. Tanah, tumbuhan, dan hutan kita tumbuh dalam kondisi lembap dengan curah hujan tinggi. Itu kenapa hutan kita bisa begitu lebat dan kaya.
Masalahnya, setiap kali hujan turun hari ini, air tidak lagi bertemu hutan yang luas atau tanah yang siap menyerap. Yang ia temui adalah:
Hutan yang ditebang,
Tanah yang ditutup beton dan paving,
Drainase yang mampet,
Dan kota yang makin kehilangan ruang hijau.
Pada akhirnya, air mengambil jalan yang paling mudah: meluap dan menggenang. Bukan karena hujannya berlebih, tapi karena kemampuan tanah untuk menyerap air sudah kita kurangi sendiri.
Padahal, hutan hujan tropis dulu adalah “manajer air” paling efektif. Akar pohon menyerap air, kanopinya menahan laju hujan, tanahnya bekerja seperti spons raksasa. Semua itu hilang ketika kita menggantinya dengan aspal dan bangunan.
Menyalahkan hujan atas banjir sama seperti menyalahkan tubuh ketika sakit, padahal kita sendiri yang tidak menjaga. Solusinya bukan menunggu musim kemarau, tapi mengembalikan fungsi tanah lewat tindakan nyata. Dan salah satu langkah paling simple tapi powerful adalah menanam pohon.
Menanam pohon itu bukan sekadar aktivitas simbolis. Itu investasi jangka panjang, sistem pendingin alami, penyerap polusi, penahan erosi, sekaligus pengatur air. Satu pohon bisa memberi manfaat untuk puluhan tahun dan bahkan dirasakan generasi setelah kita.
Dorong Kebijakan Pemerintah yang Lebih Pro-Lingkungan
Sebagai warga “Negeri Seribu Hujan,” kita punya hak dan kewajiban untuk menagih komitmen nyata dari pemerintah. Program penanaman pohon tidak boleh Cuma jadi acara seremoni dan laporan angka tahunan.
Momen Hari Menanam Pohon Indonesia (28 November) seharusnya bukan sekadar momentum formal, tapi titik balik kesadaran bahwa pohon adalah fondasi hidup kita.
Pemerintah perlu:
Memastikan pembangunan gedung selalu diimbangi ruang terbuka hijau,
Memprioritaskan pohon berkanopi besar di jalan utama,
Membuat kebijakan tata ruang yang sesuai dengan karakter iklim tropis,
Dan memastikan drainase kota berfungsi bersama ruang resapan.
Karena secanggih apa pun gorong-gorong, tidak akan ada gunanya jika air tidak bisa meresap ke tanah. Ruang hijau harus diperbanyak, bukan dikurangi.
Indonesia terdiri dari hujan, tanah basah, dan kehidupan yang tumbuh dari air. Maka sudah saatnya kita membangun kota dan lingkungan dengan cara yang menghormati karakter asli negeri ini, bukan melawannya.(*/sk)