Upaya Mendinginkan Dunia di Ambang Perang Besar

@MASYKUR SARMIAN Ketum Fokal IMM Kalimantan Timur

Strategi Prabowo Keterlibatan Indonesia di “Board of Peace” Trump : Pendekatan Preventive Menjaga Palestina Cegah Perang Global

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dunia hari ini berada dalam kondisi yang rapuh. Perang Ukraina yang tak kunjung selesai, konflik Palestina Israel yang kian brutal, ketegangan AS Tiongkok di Indo-Pasifik, serta bara lama di Venezuela, Iran, dan Laut Cina Selatan, semuanya membentuk satu lanskap geopolitik yang berbahaya. Banyak analis menyebutnya sebagai fase pre-global rupture tahap awal menuju konflik global berskala besar, bahkan Perang Dunia Ketiga, meski belum dengan bentuk klasik.

Dalam konteks inilah keterlibatan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam forum atau inisiatif yang dikaitkan dengan Board of Peace Donald Trump perlu dibaca secara strategis, bukan semata-mata ideologis. Pertanyaannya bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi mengapa sekarang dan untuk kepentingan siapa.

Prabowo dan Naluri Realisme Strategis

Prabowo bukan politisi normatif. Latar belakang militernya membentuk cara pandang yang cenderung realis dan kalkulatif. Dalam realisme klasik, tujuan utama negara bukan idealisme moral, melainkan mencegah instabilitas besar yang merugikan kepentingan nasional.

Jika Prabowo melihat dunia sedang meluncur ke arah konflik besar, maka keterlibatan Indonesia dalam forum “perdamaian” bahkan yang lahir dari orbit politik Trump bisa dibaca sebagai upaya membuka kanal komunikasi dengan semua poros kekuatan global, termasuk Amerika Serikat yang masih menjadi aktor kunci.

Dalam logika ini, Indonesia tidak sedang memutihkan dosa geopolitik AS, melainkan menjaga agar eskalasi global tidak sampai ke titik tak terkendali. Ini adalah pendekatan preventive diplomacy hadir lebih awal sebelum perang menjadi keniscayaan.

Mendinginkan Dunia, Bukan Membenarkan Ketidakadilan

Namun di sinilah dilema besarnya. Upaya mendinginkan suasana global tidak boleh berubah menjadi normalisasi ketidakadilan struktural, terutama terhadap Palestina. Dunia tidak kekurangan forum damai; yang langka adalah forum damai yang berani menyentuh akar konflik.

Jika Board of Peace hanya bertujuan meredam gejolak agar sistem global tetap stabil sementara penjajahan, aneksasi, dan ketimpangan kekuasaan dibiarkan maka “perdamaian” yang ditawarkan hanyalah pendinginan permukaan, bukan penyembuhan luka.

Maka strategi Prabowo akan dinilai bukan dari kehadiran Indonesia, melainkan dari posisi yang diambil di dalamnya : apakah Indonesia menjadi buffer state yang meredam konflik demi stabilitas global, atau moral actor yang menegaskan bahwa stabilitas tanpa keadilan hanyalah penundaan bencana. 

Bebas Aktif dalam Versi Dunia yang Terbelah

Politik luar negeri bebas–aktif di era Perang Dingin relatif jelas: tidak berpihak pada blok Barat atau Timur. Namun di era sekarang, dunia tidak lagi bipolar, melainkan chaotic multipolar. Konflik tidak selalu frontal, melainkan hibrida ekonomi, sanksi, narasi, dan perang proksi.

Dalam kondisi ini, “aktif” sering berarti hadir di forum yang ambigu, bernegosiasi di ruang abu-abu, dan berbicara dengan aktor yang secara moral problematik. Ini berbahaya, tetapi juga tak terelakkan.

Prabowo tampaknya membaca bahwa menjauh total dari AS bukan pilihan realistis, tetapi tunduk pada desain AS juga bukan jalan konstitusional. Maka ia memilih jalur tengah: terlibat, tetapi tidak melebur; hadir, tetapi berupaya menjaga otonomi sikap.

Apakah ini berhasil? Itu bergantung pada satu hal krusial: kejelasan garis merah Indonesia.

Palestina sebagai Batu Uji

Isu Palestina akan menjadi ujian paling jujur dari strategi ini. Jika keterlibatan Indonesia berujung pada :  melemahnya dukungan eksplisit terhadap kemerdekaan Palestina, pergeseran bahasa dari “penjajahan” menjadi “konflik dua pihak”, atau penerimaan kerangka damai yang menyingkirkan hak historis Palestina,

maka strategi ini akan tercatat sebagai kekeliruan besar mendinginkan dunia dengan mengorbankan prinsip.

Sebaliknya, jika Indonesia mampu menggunakan posisinya untuk menahan legitimasi sepihak, memperkuat tekanan moral, dan menjaga Palestina tetap sebagai subjek politik, maka keterlibatan itu bisa menjadi kontribusi nyata bagi pencegahan perang global.

Penutup : Antara Api Besar dan Api Nurani

Perang Dunia Ketiga, jika terjadi, tidak akan meledak tiba-tiba. Ia akan lahir dari serangkaian kompromi kecil yang membenarkan ketidakadilan demi stabilitas. Karena itu, upaya mendinginkan dunia adalah langkah penting tetapi cara mendinginkannya jauh lebih penting daripada niatnya.

Strategi Prabowo mungkin berangkat dari kesadaran bahwa dunia sedang menuju titik berbahaya. Namun sejarah akan menilai bukan dari seberapa sering Indonesia duduk di meja perdamaian, melainkan di sisi nilai mana Indonesia berdiri ketika dunia diminta memilih antara stabilitas dan keadilan.

Sejauh ini saya percaya dengan Komitmen dan langkah strategis Prabowo dalam menjalankan Amanah UUD 1945 terutama dalam hal ikut mengambil peran dalam perdamaian dunia, tetapi masalahnya apakah kita masih bisa percaya kepada Donald Trump, yang dalam sepak terjang politik kekuasaannya, telah banyak terbukti sewenang-wenang kepada Bangsa – bangsa yang tidak mau tunduk kepada kehendaknya, walau harus melawan tatanan.

Perdamaian sejati bukan sekadar menghentikan perang, tetapi memastikan bahwa api yang dipadamkan tidak menyisakan bara ketidakadilan yang kelak membakar dunia lebih hebat.(***/sk)

www.swarakaltim.com @2024