Cuaca Ekstrem, Pemkab Berau Tiadakan Festival Manutung Jukut

TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Pemerintah Kabupaten Berau memilih tidak menggelar Festival Manutung Jukut dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau. Keputusan tersebut diambil di tengah kondisi cuaca panas ekstrem yang dinilai meningkatkan potensi terjadinya kebakaran, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, kondisi cuaca saat ini tidak memungkinkan pemerintah daerah mengambil risiko dengan menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan aktivitas pembakaran. Suhu udara yang tinggi membuat potensi api sulit dikendalikan apabila terjadi percikan atau penyebaran bara di sekitar lokasi kegiatan. Sri menyebut Berau saat ini termasuk daerah dengan tingkat panas yang cukup tinggi secara nasional. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama pemerintah sebelum memutuskan untuk membatalkan kegiatan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat tersebut.

“Sekarang kondisi panasnya sudah sangat ekstrem. Kalau aktivitas sederhana saja terasa panas, tentu kita harus lebih berhati-hati terhadap kegiatan yang berhubungan dengan api,” ujarnya saat ditemui, baru-baru ini. Menurutnya, keputusan meniadakan Festival Manutung Jukut bukan berarti pemerintah mengabaikan tradisi maupun kemeriahan Hari Jadi Kabupaten Berau. Langkah tersebut justru diambil sebagai upaya pencegahan agar sebuah kegiatan perayaan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Kekhawatiran itu berkaitan dengan meningkatnya kerawanan karhutla selama periode cuaca panas dan minimnya kondisi yang mendukung pengendalian api. Jika terjadi kebakaran, dampaknya tidak hanya mengganggu jalannya kegiatan, tetapi juga dapat merambah ke kawasan lain dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat serta lingkungan. Sri menegaskan, pemerintah daerah tidak ingin menunggu sampai muncul kejadian sebelum mengambil tindakan. Menurutnya, pencegahan harus menjadi prioritas ketika kondisi lingkungan sudah menunjukkan tingkat kerawanan yang tinggi.

“Daripada kita memaksakan kegiatan kemudian muncul kejadian yang tidak diharapkan, lebih baik risikonya kita cegah sejak awal,” tegasnya. Peniadaan festival tersebut sekaligus menjadi bentuk penyesuaian agenda pemerintah terhadap situasi lingkungan yang sedang dihadapi Berau. Sri menilai perayaan hari jadi daerah tetap dapat berlangsung melalui kegiatan lain yang tidak memiliki potensi serupa dan lebih aman terhadap kondisi cuaca saat ini.

Ia juga meminta masyarakat memahami keputusan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama. Menurutnya, semangat memperingati Hari Jadi Kabupaten Berau tidak harus diwujudkan melalui satu kegiatan tertentu, melainkan dapat tetap dirasakan melalui berbagai agenda alternatif yang lebih aman. “Semangat hari jadi tetap harus kita jaga, tetapi keselamatan masyarakat dan kondisi lingkungan juga tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.(Nht/Bin).

www.swarakaltim.com @2024