Presiden PKS Soroti Narasi Provokatif, Pelemahan Institusi KPK, Pancasila Hingga Bantuan Sosial Dikorupsi

Pengurus PKS Kota Balikpapan berfoto bersama H.Sonhaji Ketua DPD PKS Balikpapan usai senam dan joging bersama menutup acara rangkaian Milad PKS ke 19 di kantor DPD PKS Kota Balikpapan (30/5/21).

BALIKPAPAN, Swara Kaltim. Com. Presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Ahmad Syaikhu mengungkapkan ditengah-tengah masyarakat yang terbelah saat ini, ada narasi yang dibangun seolah-olah ingin membenturkan sesama anak bangsa. Narasi yang provokatif yang mencederai kerukunan hidup sesama anak bangsa.
“Kita merasa kan akhir-akhir ini ada propaganda yang begitu bising di dengungkan oleh para pendengung nya,” kata Syaikhu dalam pidato politik nya di acara rangkaian kegiatan akhir Milad PKS ke 19 di DPP PKS yang secara virtual yang di hadiri sekitar 6 ribu struktur dan kader PKS dari seluruh Indonesia Minggu,(30/5/’21).
Kemudian Ia mengatakan dalam kehidupan berbangsa saat ini, kita masih merasakan berbagai permasalahan. Keakraban kita sebagai sesama anak kadang terusik dan tercerai berai. Akal sehat kita sebagai manusia rasional tidak bisa lagi bernalar.
Para pendengung menggulir bahwa menjadi seorang muslim yang taat itu bisa sekaligus menjadi warga negara yang taat. Menjadi seorang religius tidak bisa menjadi seorang nasionalis.
Inilah, atas nama nasionalisme mereka stikmakan radikalisme sesama anak bangsa. Atas nama Pancasila mereka sematkan tuduhan ekstrimisme kepada sesama warga negara.
Syaikhu menegaskan bukanlah pendiri bangsa kita ini Soekarno-Hatta telah meletakkan dasar-dasar konsensus bernegara sebagai alat untuk mempersatukan bangsa.

Akhmad Syaikhu Presiden PKS saat menerima potongan tumpengan dari salah satu Dewan Syuro di acara akhir kegiatan Milad PKS ke 19 di DPP PKS Minggu, (30/5/’21)


Banyak hal yang di sampaikan secara tegas dan lugas oleh Syaikhu di acara dalam rangka menyelenggarakan 19 tahun Milad PKS. Diantaranya terkait Pancasila tidak lagi menjadi konsensus mempersatukan bangsa sebagaimana yang di contohkan pendiri bangsa kita.
“Atas nama Pancasila ekonomi kekuasaan merusak kehangatan percakapan warga negara. Mengadu domba sehingga terjadi keterbelahan semakin menganga,” ujarnya.
Selain itu Syaikhu memaparkan secara kasat mata rakyat menyaksikan atas nama wawasan kebangsaan dan cinta Indonesia para pejuang anti korupsi ramai-ramai disingkirkan.
Menyaksikan fakta ini kiranya menurut Syaikhu, rasa keadilan rakyat pun semakin terkoyak-koyak. Kesadaran Nurani publik tersakitkan ketika agenda pemberantasan korupsi di lemahkan. Disaat yang sama dana bantuan sosial untuk orang yang berdampak pandemi justru di korupsi habis-habisan oleh pejabat negara yang korup.
“Publik jadi bertanya-tanya apakah integritas dan sikap anti korupsi bukan sikap yang Pancasilais, begitu pula sikap cinta NKRI. Jangan hanya karena segelintir oknum yang ingin melemah kan pemberantasan korupsi institusi KPK sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi lemah. Jika terjadi rakyat lah yang di rugikan,” tandasnya.

Sebagai Presiden PKS Ahmad Syaikhu menyampaikan Nasionalisme PKS ada 2 hal yang harus realisasi kan. Nasionalisme simbolik dan nasionalisme subtamtib. Lebih jauh soal nasionalisme PKS Syaikhu mengulasnya lebih dalam menjadi 4 poin penting. Meliputi misi pembinaan, misi kelembagaan, misi kebangsaan, dan misi peradaban.
Diakhirnya pidatonya Syaikhu menyampaikan terimakasih pada semua keluarga besar PKS dari DPP PKS hingga seluruh Nusantara Indonesia. ” Mudah-mudahan Insha Allah rangkaian milad PKS ke 19 ini menjadi starting poin untuk mencapai berkah Allah SWT di kemenangan PKS di 2024,” ujar Syaikhu yang menerima potongan nasi tumpeng dari dewan syuro PKS menandakan berakhirnya rangkaian kegiatan Milad PKS ke 19. (SIS)

Bagikan:

Related posts