Menilik Misi Gubernur Kaltim Kunjungi Meksiko dan Brasil

Loading

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Miliki kesamaan dengan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Negara Brasil merupakan salah satu Negara di Benua Amerika yang termasuk dalam kawasan Hutan Hujan Tropis. Sementara, Yucatan (Meksiko) merupakan salah satu negara yang memiliki komitmen kuat untuk memberikan kompensasi bagi negara-negara yang sukses melakukan penurunan emisi karbon dioksida.

Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Kaltim Isran Noor saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kaltim tahun 2024 belum lama ini.

Isran Noor mengungkapkan bahwa pihaknya bakal berkunjung ke Brasil dan Mexico pada awal Mei 2023. Kunjungan ini dijelaskannya, dalam upaya untuk menjual karbon Kaltim ke mancanegara.

“Pada 2-7 Mei akan ke Brasil. Disana (Brasil) salah satu penghasil karbon, karena dia juga memiliki kawasan hutan tropis sama dengan kita di Kaltim,” dikutip Rabu (26/04/2023).

Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) ini pun melanjutkan. Pada tanggal 8-9 Mei 2023 nantinya, dirinya akan bertandang ke Bank Dunia (World Bank) di Amerika Serikat. Hal ini juga masih terkait personal ratifikasi kesepakatan dalam jual beli karbon karena lembaga keuangan dunia ini memiliki data dan data Kaltim ada disana.

“Kemudian, tanggal 11 dan 12 Mei ke Yucatan Mexico. Karena Yuca memiliki komitmen yang kuat dalam hal kompensasi bagi negara-negara yang melaksanakan penurunan emisi yang sukses seperti Kaltim. Karena selama 10 tahun kedepan, mereka mempersiapkan dana 10 million pound sterling dan rata-rata setahunnya mengeluarkan dana 3 milion pound sterling. Ini yang mau saya kejar,” ungkap orang nomor satu di Benua Etam ini.

Isran menegaskan bahwa hingga saat ini Kaltim masih terus berjuang untuk mendapatkan peningkatan penerimaan daerah melalui dana bagi hasil dari Sumber Daya Alam (SDA) seperti Kelapa Sawit dan penjualan karbon.

“Selain Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit yang saat ini sedang diperjuangkan daerah-daerah penghasil kelapa sawit, masih ada peluang lain yang bisa kita dapatkan. Misalnya menjual karbon, dan Provinsi Kaltim mendapatkan kompensasi dari World Bank untuk 22 juta matrix ton karbon dioksida senilai 110 juta USD,” sambungnya.

Adapun perkiraan dari pakar ahli karbon ujarnya, Kaltim baru dinilai 30 juta ton karbondioksida equivalen (CO2eq) sampai tahun 2021, berarti 2022, 2023 dan 2024 bisa capai kisaran 100 juta ton. (adv-diskominfo kaltim/dho)