SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda meraih penghargaan nasional sebagai terbaik pertama kabupaten/kota se-Provinsi Kalimantan Timur dalam pemetaan risiko Penyakit Infeksi Emerging (PIE) tahun 2025. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasi, menjelaskan penghargaan itu merupakan hasil dari kinerja sistem kewaspadaan dini dan surveilans penyakit menular yang dijalankan secara konsisten oleh Dinkes Samarinda.
“Di Dinas Kesehatan ada subbagian penyakit menular, di dalamnya terdapat sistem kewaspadaan dan surveilans yang menjadi tugas utama bidang pencegahan penyakit.

Tahun ini kami mendapat penghargaan terbaik pertama untuk wilayah Kalimantan Timur dalam sistem surveilans PIE,” ujar Ismed saat dikonfirmasi langsung, Senin (22/12/2025).
Ia menerangkan, PIE atau Penyakit Infeksi Emerging mencakup penyakit menular yang berpotensi meningkat dan menimbulkan wabah, seperti demam berdarah dengue (DBD). Melalui pemetaan risiko dan kewaspadaan dini, potensi peningkatan kasus dapat dicegah sejak awal.
“Dengan sistem kewaspadaan dan surveilans yang baik, kita bisa mencegah terjadinya wabah atau lonjakan kasus yang mengganggu sistem kesehatan di suatu daerah,” katanya.
Ismed menyebut, Dinkes Samarinda melakukan pemetaan dan pengawasan penyakit secara menyeluruh di seluruh fasilitas kesehatan. Mulai dari 26 puskesmas sebagai layanan primer, fasilitas kesehatan swasta, hingga rumah sakit rujukan.
“Semua fasilitas kesehatan kita koordinasikan. Jika ada indikasi peningkatan kasus, kami langsung melakukan surveilans penyakit secara cepat,” jelasnya.
Terkait indikator penilaian, Ismed mengatakan pihaknya tidak mengetahui secara detail kategori penilaian dari Kementerian Kesehatan. Namun, sistem pelaporan dan kesesuaian data dengan kondisi di lapangan menjadi faktor utama.
“Yang pasti mereka menilai sistem pelaporan dan fakta di lapangan. Contohnya, di Samarinda selama lima tahun berturut-turut tidak terjadi wabah demam berdarah dan tidak ada lonjakan kasus signifikan. Itu fakta yang tidak bisa diabaikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut juga tercermin pada penanganan pandemi COVID-19 di Samarinda. Bahkan, pada Juni lalu, salah satu ASN PPPK Dinkes Samarinda yang bertugas di bidang surveilans mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan surveilans kesehatan di Jepang.
“Waktu itu hanya ada tiga provinsi yang terpilih, salah satunya Kalimantan Timur. Itu menunjukkan bahwa sistem surveilans kita dinilai baik, rapi, dan sesuai standar,” tutup Ismed.(DHV)