JAKARTA, Swarakaltim.com – Bayangkan sebuah ruang kelas di mana anak-anak tidak lagi terkantuk-kantuk mendengarkan ceramah satu arah. Alih-alih menatap papan tulis dengan jenuh, jemari mereka lincah menyusun strategi di platform digital, berdebat dalam metode Round Robin Brainstorming, dan memetakan isi kepala mereka lewat diagram Fishbone yang interaktif.
Pemandangan itulah yang kini sedang diikhtiarkan secara masif di berbagai penjuru negeri. Menandai perjalanan 25 tahun kiprahnya di dunia pendidikan Indonesia, Putera Sampoerna Foundation kembali menegaskan bahwa kunci utama menghadapi masa depan bukan sekadar membagikan gawai, melainkan melatih manusianya: sang guru.
Tantangan ini bukan fiksi. Data Badan Pusat Statistik 2025 merekam realitas yang gamang, di mana 83,80 persen pelajar Indonesia sudah akrab dengan internet dan 85,78 persen mengoperasikan telepon seluler setiap hari. Di era di mana kecerdasan buatan atau AI bisa menjawab segala teori dalam hitungan detik, posisi guru sedang diuji.
“Saat ini, kita dihadapkan dengan satu hal yang luar biasa, yaitu kecerdasan buatan (AI). Meski dari segi pengetahuan sudah digantikan oleh AI, guru tetap menjadi kunci utama. Bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan kepada siswa-siswi saja, tapi juga melatih serta membimbing mereka dengan sepenuh hati agar mereka bisa memiliki role model yang baik bahkan menjadi generasi unggul di masa depan,” ungkap Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Juwarto.

Bergerak dari keresahan itulah, lokakarya bertajuk Kolaborasi dan Visualisasi Pembelajaran di Era Digital dibuka. Dipandu oleh fasilitator PSF, Putri Fitria Joko, ruang pelatihan disulap menjadi laboratorium taktik. Para guru dari berbagai daerah, termasuk mereka yang mengajar di wilayah binaan terjauh seperti Kutai Barat hingga Manggarai Barat, diajak menyelami pendekatan cooperative learning.
Tidak ada teori yang mengawang-awang. Guru-guru mempraktikkan langsung metode Think Pair Share hingga Fishbowl. Mereka juga berkenalan dengan graphic organizer digital seperti Y-Chart dan Diagram 4 Kotak—perangkat visual sederhana yang nyatanya ampuh memicu nalar kritis anak didik sejak dini.
Bagi lembaga yang sudah dua dekade setengah berinvestasi pada kapasitas pendidik di 34 provinsi ini, mengubah cara guru mengajar adalah hulu dari segala perubahan struktural di sekolah.
“Pendekatan kami dimulai dari membangun kesadaran guru sebagai agen perubahan. Saat pembelajaran berpusat pada siswa, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan kolaboratif. Workshop ini menjadi wujud nyata komitmen kami untuk mendorong perubahan pendidikan melalui penguatan kapasitas guru dalam berkolaborasi, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi, sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh siswa di berbagai pelosok Indonesia,” jelas Head of Program dan GuruBinar PSF-SDO, Juliana.
Percikan perubahan itu konon langsung dirasakan di akar rumput. Bagi para pendidik yang saban hari bertarung berebut perhatian siswa yang kerap terdistraksi oleh layar gawai, metode baru ini ibarat amunisi segar yang mengembalikan gairah mengajar mereka di kelas.

“Workshop ini sangat membuka wawasan saya tentang pentingnya menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, relevan, dan berpihak pada kebutuhan anak-anak di era sekarang.
Materi dan sharing yang disampaikan memberikan semangat baru bagi saya untuk menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan di kelas, sekaligus memotivasi saya untuk terus berkembang sebagai pendidik.
Ke depannya, saya berharap berbagai insight yang didapat, seperti penerapan collaborative learning, penguatan critical thinking siswa, serta penggunaan media pembelajaran yang lebih dekat dengan keseharian anak, dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar,” pungkas guru dari SD Insan Kamil Bogor, Rauda Alia.(DHV)