Foto Saat Petugas Café SR Melayani Pelanggan Perumdam Batiwakkal Bayar Tagihan Air
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Perusahaan umum daerah air minum (Perumdam) Batiwakkal, Berau terus berupaya menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menghadirkan layanan pembayaran di Café Senyaman Rasa (SR) sebagai alternatif bagi pelanggan yang selama ini kesulitan mengakses layanan pada jam kerja.
Kebijakan tersebut disampaikan Direktur Perumdam Batiwakkal, Saipul Rahman saat ditemui di kantornya Jl Raja Alam, Tanjung Redeb, Senin lalu (13/7/2026).
“Perubahan pola pelayanan tersebut berangkat dari banyaknya keluhan pelanggan, khususnya pekerja di sektor pertambangan maupun perusahaan swasta yang memiliki jam kerja padat sehingga tidak sempat datang ke kantor Perumdam saat jam operasional berlangsung. Tentu kondisi itu membuat sebagian masyarakat harus menunda pembayaran tagihan karena terbatasnya waktu pelayanan,” jelasnya.
Tambahnya lagi, perusahaan sebelumnya telah mencoba mendekatkan layanan dengan membuka sejumlah loket pembayaran di beberapa titik. Namun setelah dilakukan evaluasi, skema tersebut justru dinilai tidak efektif. Biaya operasional untuk menjalankan loket, mulai dari kebutuhan listrik, perawatan fasilitas hingga tenaga kerja, ternyata lebih besar dibandingkan nilai transaksi yang dilayani.
“Kami ingin pelayanan semakin mudah dijangkau masyarakat, tetapi di sisi lain perusahaan juga harus memastikan sistem yang dijalankan tetap efisien. Karena itu kami memilih model pelayanan yang lebih fleksibel tanpa menambah beban operasional,” jelas Saipul.
Melalui konsep tersebut, pelanggan kini dapat melakukan pembayaran rekening air maupun biaya pemasangan sambungan rumah di Café SR dengan jam layanan yang lebih panjang dibandingkan operasional kantor Perumdam. Dengan demikian, masyarakat yang bekerja hingga sore atau malam hari tetap memiliki kesempatan menyelesaikan urusan administrasi tanpa harus mengambil cuti atau meninggalkan pekerjaan.
Saipul menegaskan, filosofi utama kebijakan ini bukan sekadar memindahkan lokasi pembayaran, melainkan mengubah cara pelayanan publik agar lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pelayanan yang baik tidak hanya diukur dari banyaknya loket yang dibuka, tetapi dari sejauh mana masyarakat dapat mengakses layanan secara mudah, cepat, dan efisien.
“Harapan kami, pelanggan tidak lagi terkendala waktu. Mereka bisa membayar tagihan atau mengurus administrasi di luar jam operasional kantor dengan suasana yang lebih santai, sementara perusahaan tetap mampu memberikan pelayanan secara optimal,” pungkasnya. (Nht/Bin)