TANJUNG REDEB, swarakaltim.com – Kondisi kualitas udara di Kabupaten Berau yang masih buruk membuat perlindungan kelompok rentan, khususnya anak-anak, menjadi perhatian Dinas Kesehatan. Oleh sebab itu Dinas Kesehatan mendukung langkah pemerintah dengan memperpanjang kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) sampai September 2026. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Lamlay Sarie, saat ditemui di Kantornya Dinas Kesehatan Berau, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut merujuk pada hasil pemantauan kualitas udara yang dirilis Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau pada 29 Agustus. Dalam laporan tersebut, kualitas udara Kabupaten Berau masuk kategori tidak sehat akibat peningkatan polutan dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Lamlay menjelaskan, paparan asap dalam waktu lama berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap pencemaran udara. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena aktivitas mereka di luar ruangan relatif sulit dikendalikan.
“Belajar dari rumah merupakan salah satu cara untuk mengurangi paparan terhadap kelompok yang rentan, terutama anak-anak, sambil melihat perkembangan kualitas udara,” ujarnya.
Dinkes menyebut terdapat dua langkah utama yang dapat dilakukan masyarakat untuk menekan risiko paparan asap, yakni menggunakan masker ketika berada di luar dan membatasi kegiatan di ruang terbuka. Namun, penerapan perlindungan tersebut dinilai lebih sulit pada anak-anak karena tidak seluruhnya konsisten menggunakan masker.
“Apabila kualitas udara belum menunjukkan perbaikan, pemerintah akan terus mengevaluasi kebijakan perlindungan masyarakat, termasuk kemungkinan penyesuaian langkah pembelajaran. Dinkes juga telah menyampaikan panduan pencegahan kepada masyarakat sebagai upaya menghadapi dampak kabut asap, “imbuhnya.
Lamlay berharap kondisi udara segera membaik sehingga aktivitas pendidikan dan masyarakat dapat kembali berjalan normal. Sembari menunggu situasi tersebut, ia meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi udara dan mengurangi paparan asap, terutama bagi anak-anak serta kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat pencemaran udara. (Nht/Bintang).