Kabid Kebudayaan Dikbud Samarinda DR Barlin Hadi Kesuma didampingi Kepala Museum Samarinda Ainun menerima secara simbolis piagam penetapan WBTb Indonesia dari Plt Kadis Dikbud Kaltim HM Armin.
JAKARTA, Swarakaltim.com – Setelah 9 tahun sepi dari prestasi warisan budaya sejak ditetapkan ditetapkan Sarung Samarinda sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2016, tahun 2025 ini Kota Samarinda kembali meraih anugerah WBTbI melalui Amplang, Bubur Peca dan Amparan Tatak.
Bersama 10 WBTb dari Kukar, Kubar dan Mahulu, 3 WBTB Samarinda menerima Piagam Penetapan WBTbI dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, pada seremoni Malam Apresiasi WBTbI di Auditorium Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Senin (15/12).
Usai menerima piagam yang diserahkan secara simbolis dari Plt Kadis Dikbud Kaltim HM Armin kepada Dikbud Samarinda, Kabid Kebudayaan Dikbud Samarinda Dr. Barlin Hadi Kesuma, menyampaikan rasa bangganya.
“Saya bangga, lantaran sesudah 9 tahun warisan budaya Samarinda tidak pernah menerima penetapan WBTbI, tahun ini melalui proses yang panjang warisan budaya Samarinda, Amplang, Bubur Peca dan Amparan Tatak ditetapkan sebagai WBTb Indonesia,” ucap Barlin Hadi Kesuma.
Dituturkan Barlin Hadi Kesuma, 3 WBTb Samarinda bersaing ketat dengan 800 lebih WBTb seluruh Indonesia. “Alhamdulilah berkat dukungan budayawan, penulis, Dikbud Kaltim, 3 WBTb Samarinda berhasil ditetapkan,” ucap Barlin yang pernah 9 tahun menimba ilmu di Inggris.
Mengungkap kronologis pengusulan 3 WBTb Samarinda menjadi WBTb Indonesia, Barlin menyebut, diawali dengan inventarisasi budaya Samarinda yang tumbuh berkembang di kota pusat peradaban ini.

Hamdani menerima piagam penetapan WBTb Indonesia untuk warisan budaya Amplang.
“Diawali dengan penyusunan buku ‘Bubur Peca, Masakan Legendaris Samarinda’ yang ditulis Hamdani dan diterbitkan Dikbud Samarinda tahun 2024. Disusul penulisan Karya Tulis Budaya, muncullah karya tulis Amplang tulisan Hamdani dan Amparan Tatak oleh Muhammad Sarip. Ketika ada surat dari Kementerian Kebudayaan melalui Dikbud Kaltim tentang pengusulan penetapan WBTb Indonesia. Kami mengirim 4 WBTb, Amplang, Bubur Peca, Amparan Tatak dan Tambangan, “ urainya.
Dari proses seleksi ketat dari tim ahli WBTbI Kementerian Kebudayaan, Amplang, Bubur Peca dan Amparan Tata, dengan beberapa perbaikan, prosesnya dilanjutkan sampai tahap sidang penetapan. “Namun sayang Tambangan ditangguhkan proses penetapannya sampai tahun 2926.”
Menyinggung tentang persyaratan wajib yang harus dipenuhi warisan budaya yang diusulkan menjadi WBTbI, Analis WBTb Hamdani, harus sudah masuk dalam data Kebudayaan atau Dapobud dan berusia 50 tahun ke atas. “WBTb yang diusulkan Samarinda semua sudah memenuhi persyaratan awal,” kata peraih Anugerah Kebudayaan Kaltim 2022 lalu.
Tahun 2026 nanti, timpal Barlin, melihat potensi yang ada Samarinda akan mengusulkan lebih banyak lagi WBTb ke Kementerian. “Apalagi dalam sambutannya Menteri Fadli Zon, menantang daerah supaya mengirim lebih banyak lagi warisan budayanya,” tambah Barlin.
KECEWA
Sementara itu, di balik suka cita keberhasilan WBTb Kaltim tercatat sebagai WBTb Indonesia, kekecewaan muncul dari Kabid Kebudayaan Dikbud Mahulu, Ignatius Rayung.
Kekecewaan Rayung tertuju kepada sebutan ‘apresiasi’ pada kegiatan itu. “Jangankan makna apresiasi dalam bentuk fisik, kami dari Mahulu merasa tidak dihargai oleh kementerian dalam tata acara,” lanjutnya.
Yang lebih mengecewakan, ujarnya adalah sikap dari Dikbud Provinsi yang tidak ada komunikasi setelah menerima piagam simbolis dari Menteri.
“Ketika Plt Kadis Kaltim dan staf bidang kebudayaan foto bersama di fotoboth, Mahulu dan Samarinda tidak diajak. Seolah-olah raihan itu adalah semata-mata kerja mereka, Dikbud Provinsi.”
Padahal, papar Rayung, kabupaten/kotalah yang ‘berdarah-darah’ memproses usulan tersebut. “Kalau begini caranya, selama saya jadi Kabid Kebudayaan Dikbud Mahulu, saya tidak akan mengirim lagi usulan penetapan WBTbI,” tandasnya.
Tahun ini 2 WBTb Mahulu berhasil tercatat sebagai WBTb Indonesia, Dangai dan Nembak.(dho/sk)