Dari Persembahan Logam hingga Bhūmisparsa Mudrā: Menandai Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia di Samarinda

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Aroma dupa perlahan menyelimuti halaman Vihāra Muladharma Samarinda, Minggu (1/2/2026). Di tengah lantunan paritta suci yang menggema, umat Buddha tampak duduk hening, menyatukan batin dalam sebuah upacara sakral: pengecoran Rupang Buddha Nusantara Bhūmisparsa Mudrā, rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia bertema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”.

Sebelum api pengecoran dinyalakan, umat terlebih dahulu melaksanakan Adhiṭṭhāna, tekad batin melalui persembahan logam. Satu per satu umat menyerahkan logam dengan penuh kesadaran, sebagai simbol pelepasan kemelekatan dan pengumpulan kebajikan. Seluruh logam yang digunakan dalam proses pengecoran ini berasal dari donasi umat Buddha.

Dalam tradisi pembuatan rupang Buddha sejak masa lampau, khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara, peleburan logam bukan sekadar proses teknis. Logam-logam persembahan dilebur menjadi satu kesatuan, melambangkan bersatunya niat baik, kebajikan, dan tekad luhur umat. Proses ini kerap dipahami sebagai perwujudan dāna pāramī, kesempurnaan dalam bermurah hati yang ditanamkan secara nyata melalui karya suci.

Pengecoran Rupang Buddha Nusantara ini merupakan bagian dari rangkaian nasional menyambut Tahun Kencana Saṅgha Theravāda Indonesia. Panitia Nasional berinisiatif melaksanakan pengecoran di berbagai pulau sebagai representasi Nusantara, sehingga kelak dikenal sebagai Rupang Buddha Nusantara.

Inspirasi rupang ini berangkat dari penemuan arkeologis pada Mei 2025, ketika sebuah Rupang Buddha ditemukan di reruntuhan kompleks Candi Sewu. Temuan tersebut kemudian dijadikan prototipe dalam perwujudan Rupang Buddha Nusantara, dengan mudrā Bhūmisparsa, sikap tangan menyentuh bumi yang bermakna “Bumi sebagai saksi dari kumpulan kebajikan.”

Usai Adhiṭṭhāna, umat dan para Bhikkhu melaksanakan puja bakti untuk mengenang kebajikan agung Sang Bhagavā yang telah mencapai Parinibbāna. Persembahan bunga, air, cahaya lilin, dan dupa dilakukan dengan tertib dan penuh penghayatan. Saat dupa dinyalakan, harum lembut yang menenangkan perlahan memenuhi ruang vihāra, menciptakan suasana hening yang mendalam dan menyentuh batin.

Lantunan paritta suci dipimpin oleh sekitar 30 Bhikkhu dari Saṅgha Theravāda Indonesia. Doa-doa itu mengalun serempak, mengiringi tekad umat yang memohon agar kebajikan dari upacara ini membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
Kepala Saṅgha Theravāda Indonesia, Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera, menyampaikan bahwa Rupang Buddha Nusantara ini menjadi penanda penting perjalanan setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia. Rupang tersebut, menurutnya, bukan hanya bernilai religius, tetapi juga monumental dan historikal bagi umat Buddha Indonesia.

Logam-logam persembahan kemudian dilebur dalam prosesi pengecoran yang dilakukan secara ritual. Proses pembuatannya dikerjakan oleh seniman dari Amertha Art Studio, Sugito Sutarmin, yang dikenal konsisten menggarap karya seni religius dengan pendekatan tradisi dan ketelitian tinggi.

Upacara pengecoran Rupang Buddha Nusantara dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia. Pulau Sumatra telah dilaksanakan di Kota Medan, Pulau Kalimantan di Samarinda, Pulau Bali di Denpasar, Pulau Sulawesi di Palu, Pulau Jawa di Surabaya, dan puncaknya akan digelar di Daerah Khusus Jakarta.
Bagi umat Buddha, rupang bukan sekadar karya seni atau simbol visual.

Ia menjadi sarana untuk menumbuhkan keyakinan yang berlandaskan pengertian benar, sekaligus pengingat untuk menjalani kehidupan bermoral, mengembangkan kemurahan hati, dan menapaki jalan kebijaksanaan.

Di Vihāra Muladharma sore itu, api pengecoran menyala bukan hanya untuk melebur logam, tetapi juga untuk menyatukan harapan, kebajikan, dan tekad umat sebuah perjalanan spiritual yang menapak Jalan Mulia, sembari bersumbangsih bagi negeri.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024