BALIKPAPAN,Swarakaltim.com. Di tengah citra Balikpapan sebagai kota industri dan jasa, kawasan persawahan di Gunung Binjai, Balikpapan Timur, mulai menunjukkan peran penting sebagai penyangga ketahanan pangan daerah.
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan kini menaruh perhatian serius terhadap pengembangan lahan pertanian di kawasan tersebut, termasuk membuka peluang perluasan sawah hingga puluhan hektare ke depan.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengatakan saat ini terdapat sekitar 42 hektare lahan sawah yang aktif dikelola kelompok tani di Gunung Binjai dan telah didukung pembangunan infrastruktur pertanian oleh pemerintah.
“Ada lahan sawah seluas 42 hektare yang sudah diberdayakan kelompok tani di Gunung Binjai,” ujar Bagus pada hari Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut dia, pemerintah telah membangun jalan usaha tani sepanjang dua kilometer serta jaringan saluran irigasi teknis dan tersier, untuk mendukung kebutuhan pengairan sawah.
Tak hanya itu, Pemkot Balikpapan juga mulai memetakan potensi pengembangan lahan pertanian tambahan sekitar 56 hektare yang direncanakan masuk dalam program pembangunan berikutnya.
“Kita kedepan akan alokasikan program jalan usaha tani, rehab cetak sawah, dan pengembangan saluran irigasi,” katanya.
Bagus menambahkan pemerintah juga mulai mengkaji pembangunan sumur air dalam, guna mengantisipasi kebutuhan sumber air pertanian di masa mendatang.
Di tengah upaya pengembangan tersebut, hamparan sawah Gunung Binjai saat ini memasuki masa panen. Tanaman padi diperkirakan siap dipanen sekitar 15 hari lagi.
“Padi sudah mulai menguning. Kita doakan tidak ada hama dan hasil panennya baik,” ujarnya.
Ia berharap kawasan pertanian tersebut dapat menjadi salah satu sumber ketahanan pangan Kota Balikpapan, di tengah meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat perkotaan.
Untuk mendukung stabilitas hasil panen, kelompok tani setempat juga telah menjalin kerja sama dengan Perum Bulog dalam penyerapan gabah kering petani.
Selain itu, pemerintah berupaya menambah bantuan alat dan mesin pertanian melalui dukungan pemerintah daerah maupun Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
“Berharap ada tambahan bantuan alat pertanian dari pemerintah kota, provinsi, maupun kementerian,” kata Bagus.
Sementara itu, anggota Kelompok Tani Karya Bina Bersama, Nasir, mengatakan dirinya telah menjadi petani di kawasan tersebut sejak 2007.
Menurut Nasir, petani di Gunung Binjai mampu melakukan panen dua kali dalam setahun dengan rata-rata hasil produksi sekitar lima ton sekali panen.
Seluruh hasil panen sejauh ini dipasarkan melalui Bulog dengan harga gabah berkisar Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram.
Meski demikian, petani masih menghadapi tantangan berupa serangan hama tikus yang dinilai cukup mengganggu produktivitas sawah.
“Kami belum punya alat yang memadai untuk penanganan hama tikus. Ini kendala kami,” katanya.
Saat ini, petani masih mengandalkan racun tikus untuk pengendalian hama dan berharap adanya bantuan alat pengendalian serta sarana pertanian dari pemerintah.
Di kawasan Gunung Binjai terdapat lima kelompok tani, namun saat ini hanya Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang masih aktif mengelola persawahan secara optimal.
Para petani berharap dukungan pemerintah terus berlanjut, agar kawasan tersebut dapat berkembang menjadi lumbung pangan baru bagi Kota Balikpapan.(Adv Diskominfo Balikpapan)