SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemilihan Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) kembali menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat di Kalimantan Timur. Sejumlah tokoh masyarakat Dayak menegaskan proses pemilihan rektor harus berjalan independen, bebas intervensi politik, dan tetap menempatkan dunia akademik sebagai ruang keilmuan yang objektif.
Tokoh masyarakat Dayak Kaltim, Rudianto Sulistio, menilai pemilihan rektor tidak boleh dicampuri kepentingan politik karena kampus merupakan institusi akademik yang harus dijaga marwah dan independensinya.
“Atas nama tokoh masyarakat Dayak di Kalimantan Timur dan pengurus beberapa organisasi kemasyarakatan di Kaltim, saya menyampaikan bahwa pemilihan rektor ini harus independen, tidak boleh dikait-kaitkan dengan politik. Akademis ini urusan keilmuan dan akademis. Tidak boleh ada unsur politik masuk di dalamnya,” tegas Rudianto kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).
Ia mengatakan, masyarakat Dayak di Kalimantan Timur berharap Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., dapat kembali memimpin Universitas Mulawarman karena dinilai berhasil membawa kemajuan besar bagi kampus terbesar di Kalimantan Timur tersebut.
“Harapan saya sebagai tokoh masyarakat Dayak di Kalimantan Timur menginginkan Profesor Abdunnur tetap bisa memimpin Unmul karena ini adalah putra daerah terbaik, putra asli daerah terbaik yang bisa memimpin Universitas Mulawarman ke depannya,” ujarnya.
Menurut Rudianto, selama kepemimpinan Prof Abdunnur, Universitas Mulawarman mengalami lompatan institusional yang signifikan, terutama setelah berhasil meraih Akreditasi Institusi “Unggul” BAN-PT berdasarkan SK BAN-PT Nomor 3018/SK/BAN-PT/Ak/PT/XII/2025 yang berlaku hingga tahun 2030.
Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting karena sebelumnya pada tahun 2022 Unmul masih berada pada status “Baik Sekali”, sebelum naik menjadi “Unggul” pada 2025.
Status “Unggul” itu sekaligus menempatkan Unmul dalam kelompok elite perguruan tinggi nasional dan masuk kategori sekitar lima persen perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
“Prestasi banyak sudah yang didapatkan untuk memajukan Universitas Mulawarman tersebut. Jadi tidak ada alasan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains atau Dikti Sains tidak memilih kembali Prof Abdunnur untuk memimpinnya,” kata Rudianto.
Ia juga meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Prof Abdunnur demi keberlanjutan pembangunan dan pengembangan Universitas Mulawarman ke depan.
“Kami berharap kementerian juga memberi dukungan kepada Prof Abdunnur agar program-program dan capaian yang sudah berjalan baik di Unmul bisa terus dilanjutkan dan ditingkatkan,” lanjutnya.
Selain capaian akreditasi institusi, sejumlah program studi di lingkungan Unmul juga berhasil meraih akreditasi unggul. Di antaranya Program Studi Ilmu Ekonomi S2, Manajemen S1, serta beberapa program studi di lingkungan FKIP.
Penguatan jejaring riset dan hibah nasional maupun internasional juga disebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Unmul memperoleh hibah penelitian kompetitif nasional, kerja sama riset internasional, hibah BRIN, hingga program Matching Fund LPDP.
Dari sisi kualitas lulusan, rata-rata IPK mahasiswa juga berada pada kategori sangat baik, yakni S1 sebesar 3,56, S2 sebesar 3,85, dan S3 sebesar 3,93.
Rudianto berharap capaian-capaian tersebut dapat menjadi pertimbangan objektif bagi senat universitas dalam menentukan arah kepemimpinan Unmul ke depan.
“Harapan kami dan masyarakat Kalimantan Timur meminta senat-senat yang ada di Unmul juga ikut memilih putra terbaik Kalimantan Timur, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., untuk memimpin Unmul kembali,” lanjutnya.
Senada dengan itu, tokoh masyarakat Dayak Kaltim lainnya, Dr Syaharie Jaang SH MH, turut mengingatkan pentingnya menjaga independensi kampus dari kepentingan di luar dunia pendidikan.
Wali Kota Samarinda periode 2010–2015 dan 2016–2021 itu mengatakan Universitas Mulawarman merupakan aset strategis Kalimantan Timur yang harus dipimpin figur berpengalaman dan memiliki rekam jejak nyata dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi.
“Universitas Mulawarman ini aset besar Kalimantan Timur. Karena itu proses pemilihan rektornya harus bebas intervensi politik dan benar-benar mengedepankan kapasitas akademik, integritas, serta rekam jejak kepemimpinan,” ujar Syaharie Jaang.
Ia menilai capaian Unmul dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam tata kelola, mutu akademik, hingga reputasi institusi di tingkat nasional.
“Kita tentu berharap siapa pun yang memimpin nanti mampu menjaga bahkan meningkatkan capaian yang sudah diraih. Namun kalau melihat perkembangan Unmul hari ini, Prof Abdunnur sudah menunjukkan kerja nyata dan keberhasilan yang dapat dilihat secara objektif,” pungkasnya.(dho)