SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar Rapat Koordinasi Teknis Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Ruang Rapat Tepian 1 Lantai 2 Kantor Gubernur Kaltim, Senin (24/8/2026). Langkah antisipasi ini diambil merespons hasil analisis BMKG yang memprediksi fenomena cuaca terik tanpa hujan masih akan menyelimuti wilayah Kaltim hingga September 2026.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi berencana mengajukan Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat guna menekan potensi kekeringan dan maraknya titik api.
Namun, Seno Aji menegaskan bahwa skema TMC tidak bisa langsung diterapkan serentak di seluruh wilayah Kaltim, melainkan bergantung pada kesiapan dan penetapan status di tingkat kabupaten/kota.
“Kita akan memastikan setiap kabupaten yang potensinya bencana darurat atau siaga darurat untuk segera bersurat ke BNPB. Dari situ nanti kita lihat, seperti yang kemarin dilakukan BMKG di IKN yang berhasil cukup baik, bahkan hujan sampai tersebar ke Kutai Kartanegara,” ujar Seno Aji ditemui usai rapat.
Seno Aji menambahkan, saat ini status kebencanaan di Kaltim masih berada pada level Siaga Bencana dan belum dinaikkan ke Siaga Darurat, karena ratusan titik api yang terdeteksi masih sanggup dikendalikan dan dipadamkan secara berkala oleh Satgas terpadu.

Menanggapi skema penanganan teknis di lapangan, Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menjelaskan bahwa pihaknya bersama BMKG terus memantau pergerakan kondisi angin, awan, serta tingkat kekeringan sebelum intervensi TMC resmi direkomendasikan dan diimplementasikan.
Sembari menunggu proses administrasi TMC, BPBD Kaltim menyiagakan operasi pemadaman darat secara intensif dengan mengandalkan sinergi lintas instansi.
“Kami mengupayakan untuk pemadaman setiap ada laporan dengan satu kali tindakan. Ini merupakan upaya operasi gabungan, bukan hanya BPBD provinsi dan kabupaten/kota, tetapi juga dengan unsur masyarakat, terutama Polri dan TNI,” terang Buyung.
Buyung membeberkan bahwa tantangan terbesar pemadaman di lapangan saat ini adalah luasan wilayah terdampak serta akses menuju lokasi titik api yang sangat sulit dijangkau. Selain itu, menyusutnya debit air sungai akibat kemarau panjang turut menyulitkan petugas di lapangan.
Ia juga menyoroti adanya peningkatan insiden karhutla di daerah perkotaan seperti Samarinda yang kerap dipicu oleh aktivitas pembersihan lahan secara ceroboh oleh warga di area terbatas.
“Kami imbau sekali lagi mohon kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan yang ada dengan cara dibakar. Itu langkah paling positif untuk mencegah pemburukan kondisi saat ini,” tegas Buyung.(DHV)