Kabut asap pekat akibat karhutla menyelimuti kawasan perairan Sungai Mahakam dan mengurangi jarak pandang secara signifikan
SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim)memperingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh ancaman fenomena kabut asap yang menyelimuti kawasan perkotaan dan pemukiman. Kandungan partikel mikro berbahaya dalam debu asap dinilai berisiko tinggi memicu gangguan pernapasan serius pada warga.
Muhammad Andi Ishak, Kepala Dinkes Kaltim menegaskan masyarakat harus segera merespons penurunan kualitas udara dengan proteksi diri mandiri, terutama saat terpaksa berada di luar ruangan.

Muhammad Andi Ishak, Kepala Dinkes Kaltim
“Kemarin ada saran kami memang masyarakat jangan terlalu menganggap enteng namanya cuaca asap ini. Artinya bahwa ini nyata, ada ancaman bahaya terkait partikel-partikel halus yang ada. Nah, tentunya kalau memang beraktivitas di luar rumah kondisi asapnya memang masuk kategori berbahaya ataupun juga masuk kategori tidak sehat, ya kalau lagi beraktivitas di luar pakailah masker,” kata Muhammad Andi Ishak, Rabu (14/10/2026).
Ancaman kualitas udara di Kaltim saat ini kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data resmi Laporan Khusus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Dinkes Kaltim rentang 27 Juli hingga 15 September 2026, jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka 13.000 kasus.
Kondisi tersebut diperparah oleh pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Samarinda per Kamis (15/10/2026) hari ini yang berada di level 63,7. Angka ini secara resmi menempatkan kualitas udara Samarinda dalam kategori Tidak Sehat bagi kelompok sensitif maupun warga perkotaan.
Andi Ishak membeberkan paparan kabut asap akibat karhutla yang berpadu dengan gelombang kemarau panjang berkontribusi langsung pada peningkatan grafik penyakit paru di daerah, termasuk lonjakan infeksi Pneumonia.
“Memang ada pengaruh sedikit dari asap ini terhadap ISPA maupun Pneumonia, dua itu. Kalau tidak ada kepentingan mendesak, ya jangan banyak beraktivitas di luar untuk mengurangi terhirupnya debu-debu ataupun juga partikel-partikel halus itu,” ujar Andi Ishak.
Menanggapi eskalasi ancaman kesehatan tersebut, Dinkes Kaltim memastikan seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama atau Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di daerah telah disiagakan, baik dari sisi kecukupan obat-obatan maupun peralatan medis darurat.
“Tentunya kita juga sudah mengantisipasi terkait ketersediaan sarana prasarana maupun juga obat-obatan yang ada di puskesmas-puskesmas. Tapi ya insyaallah itu masih bisa kita tangani sampai saat ini, dan mudah-mudahan kita berharap sih kondisi asap juga akan lebih membaik,” tutup Muhammad Andi Ishak.(DHV)