Lengkap Pakai “Jengkol” Walikota, Jaang Ziarah Makam Orang Tua Sebelum Idul Adha

SAMARINDA. Swarakaltim.com – Ziarah ke kubur sebelum hari raya sudah menjadi tradisi. Tak terkecuali walikota Samarinda Syaharie Jaang yang kali inibtampak berbeda saat ziarah ke makam kedua orang tuanya di kuburan muslimin Jl P Antasari Gang 11 Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (30/07) pagi.

Waktu itu menjelang hari raya Idul Adha 1441 H/ 2020 M, Walikota Samarinda dua periode ini mengenakan baju seragam motif Sarung Samarinda lengkap tertempel jengkol alias tanda jabatan Walikota dan memakai kopiah hitam berziarah ke makam ayahnya H Muhammad Djaang bin Arsyad Bahuang dan ibunya Hj Hamsiah Hipui Hong Pidang binti Abdullah.

Syaharie Jaang putra kelahiran Long Pahangai Mahakam Ulu yang juga menjabat 2 periode wakil walikota Samarinda 2000-2005 dan 2005-2010 ini, ziarah pagi itu merupakan ziarah terakhir menyambut Idul Adha sebagai walikota karena di Idul Adha tahun depan sudah menjadi “rakyat” biasa tanpa mengemban amanah warga Samarinda lagi.

“Minimal seminggu sekali saya ziarah ke makam kedua orang tua. Kalau bukan malam Jumat (Kamis malam,red), atau Jumat setelah shalat Jumat. Hari ini saya lebih awal ziarah karena besok hari raya Idul Adha,” tutur Jaang sambil memungut ranting pohon waktu itu.

Selain itu akunya, jika sebelum berangkat ke luar kota juga menyempatkan dulu ziarah dan jika lama ke luar daerah sedatangnya di Samarinda langsung ziarah.

“Semasa hidupnya kedua orang tua saya, di tengah kesibukkan minimal seminggu sekali saya mengunjungi mereka,” beber suami dari Puji Setyowati ini.

Makanya lanjut Jaang terutama kepada staf terdekatnya mulai ajudan sampai staf walikota maupun jajaran di lingkungan Pemkot selalu mengingatkan agar selalu berbakti kepada orang tuanya, apalagi yang masih hidup.

“Di tengah kesibukkan sempatkan selalu mengunjungi orang tua bagi yang orang tuanya di Samarinda atau dekat. Kalau yang jauh ditelpon atau bagus lagi video call, jangan di SMS atau WA,” ungkap Jaang.

Bahkan sebutnya mengeluarkan kebijaksanaan di hari raya agar mengutamakan bersilaturahmi ke orang tua daripada kepada walikota.

“Yang di luar kota boleh pulang kampung dan yang orang tuanya di kota aja, datangi lebih dulu barulah ke rumah jabatan,” imbuh Jaang.

Bagi yang orang tuanya sudah meninggal selalu pula diingatkannya untuk menziarahi makamnya.

“Tiap hari pun kita tidur di makam orang tua kita, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa mendoakannya saja. Mumpung bagi yang orang tuanya masih hidup, terus berbakti jangan sampai menyesal nanti. Bagi yang sudah meninggal sering-sering mendoakannya dan ziarah ke makam beliau karena dengan ziarah juga mengingatkan kita akan kematian sehingga memotivasi kita terus berbuat baik sebagai tabungan kelak,” pungkas Jaang. (dho)

Bagikan:

Related posts