Mengintip Bisnis Shipyard di Selat Malaka

BATAM, Swarakaltim.com – Industri galangan kapal (shipyard) merupakan salah satu investasi yang sangat menjanjikan di Kota Batam. Bukan hanya melayani pembuatan kapal-kapal baru dengan harga hingga ratusan miliar per unit, tetapi juga secara umum, shipyard melayani reparasi kapal dan tongkang.

Terbaru, salah satu perusahaan galangan kapal di Selat Malaka, Marcopolo Shipyard sukses mendapatkan 10 proyek pembuatan fish farm (bagang raksasa untuk budidaya ikan) dari Singapore Aquaculture Technologies, atas perintah Kementerian Perikanan Singapura.

“Kami dapat proyek 10 unit fish farm dari Singapore Aquaculture. Semua equipment dari mereka. Kami kerjakan seluruhnya dengan tenaga kerja lokal,” kata Production Manager Marcopolo Shipyard, Mailandra di area kerja perusahaan tersebut, dikutip Swara Kaltim melalui berita Biro Humas Setprov Kaltim, Rabu (23/6/2021).

Fish farm yang saat ini dikerjakan berukuran panjang 73 meter, lebar 23 meter dan tinggi 12 meter. Satu unit fish farm akan diselesaikan dalam waktu 7-8 bulan dengan jumlah tenaga kerja mencapai 300 orang.
Penyiapan fish farm merupakan bagian dari rencana Singapura untuk secara perlahan mengurangi ekspor ikan mereka dari Indonesia, Malaysia dan Thailand. 

Fish farm rencananya akan ditempatkan di sejumlah titik di tepi laut Singapura dan akan dikelola dengan model perikanan modern, mulai dari pembibitan hingga panen menggunakan ahli-ahli perikanan dari Jerman.

Selain akan mengurangi ketergantungan ekspor ikan dari negara lain, kebijakan nasional mereka menurut Mailandra juga dilakukan demi menjamin kesehatan warga Singapura.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Kaltim HM Yadi Robyan Noor mengakui benar adanya bila bisnis shipyard di Batam sangat berkembang. Bahkan produksi mereka mencapai 100 kapal baru dalam setahun dari 28 shipyard.

Menurutnya, ini sangat dipengaruhi berbagai insentif yang diberikan pusat kepada Batam.  Antara lain berupa bebas bea ekspor dan impor, tanpa pengenaan PPN, fasilitas GSP (Generalized System of Preferences), perjanjian untuk menghindari pajak berganda di 57 negara, serta investasi yang kompetitif dengan biaya operasional yang efisien. 

Investor di Batam juga mendapatkan kemudahan dari Mal Pelayanan Publik Kota Batam dan koordinasi yang baik dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

“Semua hal baik dari Batam ini kita pelajari, kita adopsi dan akan kita kembangkan.  Bagaimana agar Kaltim juga bisa memiliki kawasan industri dengan berbagai keuntungan. Ini akan memberi multiflier effect terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, serapan tenaga kerja dan  kesejahteraan masyarakat,” jelas Roby.

Rombongan Disperindagkop dan UKM Kaltim juga mengunjungi industri pengolahan sampah menjadi plastik di PT Hongsheng Plastic Industry. Plastik ini lalu diekspor ke China.

Ikut mendampingi dalam kunjungan ini, Kabid Perindustrian Erwinsyah, Kabid PKPB Rumiati dan HRD Manager Marcopolo Shipyard Sutono.(aya/sk)

Editor : Redaksi

Publisher : Alfian (SK)

Bagikan:

Related posts