Dinkes Gelar Diseminasi dan Publikasi Data Stunted

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Kesehatan Kota Samarinda melangsungkan Diseminasi Publikasi Data Stunted tingkat Kota 2023 di ruang rapat Mangkupelas, Balaikota Samarinda, Kamis (23/11/2023).

Mewakili Wali Kota Samarinda, Staf Ahli Bidang Politik dan Keamanan Pemkot Samarinda, Heri Suryansyah menyampaikan isu stunting memerlukan penanganan dan perhatian serius terutama dari Pemerintah Kota Samarinda.

“Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembambangan anak akibat kekurangan gizi kronis sehingga menyebabkan tinggi dan berat badan yang kurang. Ini memerlukan penanganan serius, khususnya dari Pemerintah Kota,” jelasnya saat membuka kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid.

Berbagai kontributor turut menghadiri acara baik via zoom maupun hadir langsung di ruang rapat Mangkupelas, Balaikota Samarinda. Diantaranya yakni Lurah, Organisasi Profesi, dan Dinas Kesehatan.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Dinkes) Kota Samarinda Siti Nurriyatus Zahrah
memaparkan isu yang melanda Kota Samarinda. “Bukan hanya permasalahan gizi kurang tapi juga gizi lebih, sehingga kita mengalami dua permasalahan,” bebernya.

Menurut survei Status Gizi Indonesia (SGGI), data penyandang stunting di Indonesia pada 2022, mencapai 21,6%. Angka tersebut memicu negara Indonesia dikategorisasikan sebagai negara yang belum sejahtera, karena menurut World Health Organization (WHO), suatu negara dapat dikatakan aman jika prevalensi stuntingnya berada di bawah 20%. Bahkan angka stunting di Kota Samarinda sendiri mencapai prevalensi 25%.

Data tersebut menunjukkan bahwa Kota Samarinda mengalami peningkatan presentase angka stunting dibanding 2021 lalu dengan presentase stunting 21,6%.

Segala upaya Pemerintah Kota Samarinda dalam menurunkan angka stunting dilakukan dengan memperhatikan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021, mengatur antara lain mengenai strategi nasional percepatan penurunan stunting, penyelenggaraan percepatan penurunan stunting, koordinasi penyelenggaraan percepatan penurunan stunting, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; dan pendanaan.

Kemudian Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih menjelaskan lima sasaran utama dalam penanganan stunting.

“Ada 5 sasaran dalam intervensi stunting, yakni remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, ” bebernya.

Lebih lanjut, hal tersebut diupayakan guna mencapai target nasional dalam menurunkan angka stunting, bahkan Kota Samarinda sendiri memiliki target capaian yang lebih rendah dibanding target nasional.

“Target nasional 2024 harus 14%, smd target sendiri 11% lebih rendah dari target nasional,” lanjutnya.

Dalam menangani peningkatan angka stunting, Kota Samarinda sendiri mengimplementasikan delapan aksi integrasi, sebagai berikut, aksi 1 Analisis Situasi, Aksi 2 Rencana Kegiatan, Aksi 3 Rembuk Stunting, Aksi 4 Peraturan Bupati/Walikota tentang Peran Desa, Aksi 5 Pembinaan Kader Pembangunan Manusia, Aksi 6 Sistem Manajemen Data Stunting, Aksi 7 Pengukuran dan Publikasi Stunting dan Aksi 8 Reviu Kinerja Tahunan.

Sejauh ini, sebutnya pemerintah kota telah melangsungkan analisis pengukuran data, dengan jumlah sasaran Balita Proyeksi 6.2351 dan yang sudah ter entry di Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGВM) sebanyak 55.549 atau sekitar 89,1%.

Untuk jumlah balita yang sudah dilakukan pengukuran dan penimbangan sebanyak 9.206 atau 16,6% dari jumlah sasaran yang di entry e-PPGM yaitu 55.549. Kemudian, ditemukan data penyandang stunting sebesar 17,19%.
“Lebih spesifik, jumlah balita dengan gangguan gizi tingkat kecamatan, dari Kecamatan Palaran hingga Sungai Pinang, kami menemukan Loa Janan Ilir mencapai angka paling tinggi dengan data 38,5 angka stunting,” ungkap Ismid.

Kemudian terdapat faktor determinan tahun 2023, yang terdiri dari masalah gizi, kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), akses air bersih, keluarga merokok, riwayat cacingan, riwayat bumil Kekurangan Energi Kronis (KEK), dan penyakit penyerta.(dho)

Loading