Pelatihan Jurnalistik Lingkungan, Bangun Kesadaran Hijau di Marangkayu

SAMARINDA, Swarakaltim.com
Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Laporan terbaru dari Bank Dunia dalam The Atlas of Sustainable Development Goals 2023, Indonesia menempati peringkat ke-5 sebagai produsen sampah terbesar di dunia.

Dari daftar yang sama, United Nation Environment menempatkan Indonesia sebagai peringkat kedua dalam penyumbang sampah plastik global, setelah Tiongkok.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Samarinda menjadi kontributor utama sampah di Indonesia.

Kota Samarinda, yang menjadi salah satu penyangga Ibu Kota Negara (IKN), mencatat jumlah timbunan sampah yang mencengangkan. Kota Samarinda sendiri mampu menghasilkan 587,25 ton sampah per hari.

Namun, tidak hanya Samarinda, daerah penyangga IKN lainnya seperti Kutai Kartanegara, khususnya di Kecamatan Marangkayu, juga menyumbangkan sampah dengan jumlah yang signifikan.

Untuk mengatasi masalah ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, Kota Samarinda, Kalimantan Timur mengambil inisiatif dengan mengadakan Pelatihan Jurnalistik Lingkungan di Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan ini diadakan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Sola Gracia, Kecamatan Marangkayu, Kalimantan Timur pada Sabtu (3/2/24).

Melati Dama, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sekaligus penyelenggara kegiatan, menjelaskan,

“Di Marangkayu, masalah lingkungan menjadi perhatian utama. Kecamatan ini tidak memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS) atau TPA, sehingga kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat rendah,” jelasnya.

“Dengan pelatihan ini, saya berharap anak-anak Marangkayu dapat memiliki pemikiran yang maju, mampu mengekspresikan diri melalui tulisan, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar,” tambahnya.

Pendeta GPIB Sola Gracia, Franklyn Michael, menegaskan,

“Pelatihan ini penting untuk membuka wawasan anak-anak terkait lingkungan. Banyak orang kurang peduli terhadap lingkungan, tetapi kami berharap anak-anak di sini akan menjadi bagian dari perubahan menuju kesadaran lingkungan yang lebih baik,” tegasnya.

Di gereja itu sendiri, telah terbentuk Gerakan Bersama Gereja Ramah Lingkungan atau Eco Church, yang meliputi berbagai komitmen seperti Green Community, Green Energy, Green Transportation, Green Open Space, Green Space, dan lain-lain.

Diharapkan setelah kegiatan ini berlangsung, segala komitmen terkait gerakan ramah lingkungan dapat diimplementasikan tidak hanya di Gereja Sola Gracia tetapi juga merebak hingga seluruh Kecamatan Marangkayu, kemudian menjamah Kabupaten Kutai Kartanegara, hingga ke Provinsi Kalimantan Timur.

Dengan upaya bersama, kesadaran lingkungan bisa ditingkatkan, dan Indonesia bisa bergerak menuju arah yang lebih berkelanjutan. (jp2)

Loading