SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan langkah teknis untuk membenahi keluhan seputar masuknya tempias air hujan ke dalam area Gedung Pasar Pagi. Pembenahan fisik bangunan tersebut direncanakan menggunakan sistem penutup geser atau sliding dengan proyeksi kebutuhan anggaran mencapai sekitar tiga miliar rupiah.
Meski perencanaan penanganan telah rampung disusun oleh instansi terkait, realisasi pengerjaan di lapangan belum dapat dieksekusi secara instan. Pemerintah daerah menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan konstruksi penunjang ini wajib melewati tahapan lelang serta pemenuhan mekanisme administrasi keuangan negara yang berlaku.
“Penanganan tempias akan dilakukan melalui pemasangan sistem penutup geser atau sliding dengan alokasi anggaran sekitar Rp3 miliar. Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap lelang,” jelas Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy.
Marnabas menjabarkan bahwa percepatan penanganan ini bersumber dari skema pergeseran anggaran belanja daerah pada tahun berjalan. Karena menggunakan jalur pergeseran formal, pemkot menggarisbawahi pentingnya kepatuhan terhadap prosedur hukum agar tidak memicu kekeliruan administratif di kemudian hari.
Otoritas kota sempat mengkaji opsi pemanfaatan pos dana Belanja Tidak Terduga (BTT) guna mempercepat penanganan fasilitas publik tersebut. Namun setelah dilakukan verifikasi aturan, indikator kerusakan akibat tempias hujan dinilai tidak memenuhi kriteria kedaruratan bencana yang menjadi syarat mutlak pencairan dana BTT.
Marnabas mencontohkan bahwa alokasi BTT secara regulasi lebih tepat digunakan untuk penanganan pascabencana, seperti rehabilitasi darurat pasca kebakaran yang pernah melanda kawasan Pasar Segiri. Atas dasar pertimbangan yuridis tersebut, perbaikan sirkulasi Gedung Pasar Pagi mutlak harus mengikuti mekanisme penganggaran reguler.
Berdasarkan evaluasi teknis, munculnya masalah tempias ini baru teridentifikasi secara faktual setelah operasional gedung pasar mulai difungsikan secara massal. Pada cetak biru awal, desain bangunan sengaja dirancang dengan konsep semi-terbuka guna memastikan sirkulasi udara di dalam pasar tetap terjaga dengan baik.
Namun saat memasuki musim penghujan dengan intensitas tinggi, pola angin menyebabkan air hujan masuk ke koridor utama dan mengganggu aktivitas transaksi perdagangan. Kondisi inilah yang mendorong pemkot mengambil langkah taktis melakukan pergeseran anggaran internal tanpa harus menunggu pembahasan APBD Perubahan yang memakan waktu lebih lama.
Pihak pemkot juga memastikan seluruh pendanaan proyek penutup geser ini bersumber dari APBD murni dan tidak melibatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Selain fokus pada penanganan tempias, pemerintah daerah kini tengah mengevaluasi draf usulan penambahan fasilitas eskalator demi meningkatkan kenyamanan aksesibilitas pengunjung pasar.(DHV)