Dongkrak Panen hingga Tiga Lipat Lewat PM-AAS, Pemprov Kaltim Kenalkan Metode Tanam Rapat Presisi di 7 Ribu Hektare Lahan

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) secara masif mendorong transformasi sektor pertanian konvensional menuju sistem berbasis teknologi modern. Langkah taktis ini diwujudkan melalui pengenalan pola tanam padi rapat presisi yang diproyeksikan mampu mendongkrak produktivitas komoditas pokok secara signifikan guna menopang kebutuhan pangan daerah yang kian meningkat.

Langkah standardisasi dan modernisasi wilayah perladangan ini diintegrasikan ke dalam program strategis bertajuk Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS). Melalui cetak biru yang telah disusun, program percepatan swasembada ini akan menyasar kawasan lahan pertanian potensial dengan total luas mencapai 7.000 hektare yang tersebar di beberapa sentra produksi regional.

Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur, Fahmi Himawan, mengungkapkan bahwa inovasi ini menjadi jawaban konkret atas keterbatasan perluasan lahan sawah baru. Dengan memaksimalkan densitas atau kerapatan tanaman di area yang ada, potensi keluaran hasil panen gabah dapat dipacu hingga batas tertinggi.

“Apabila rata-rata produktivitas riil di tingkat petani saat ini masih tertahan di kisaran angka empat ton per hektare, maka melalui implementasi teknologi ini hasil panen berpotensi besar melonjak drastis hingga menyentuh 12 ton per hektare. Metode terukur ini menjadi salah satu terobosan penting yang kami harapkan mampu memperbaiki struktur kesejahteraan ekonomi para petani di daerah secara berkelanjutan,” kata Fahmi Himawan.

Fahmi Himawan membeberkan bahwa keunggulan utama dari arsitektur tanam ini terletak pada tingkat akurasi jarak antartanaman yang diatur sedemikian rupa pada angka tiga sentimeter antarbaris benih. Pola pengaturan geografi mikro tersebut memastikan pemanfaatan ruang vertikal dan horizontal lahan menjadi sangat optimal, sehingga setiap bulir padi mendapatkan pasokan nutrisi secara efektif.

Konsekuensi dari penerapan kerapatan tinggi ini berimbas pada kebutuhan logistik benih yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tata cara tradisional. Untuk areal seluas satu hektare, para petani membutuhkan pasokan benih sekitar 80 kilogram, sedangkan metode reguler biasanya hanya memerlukan alokasi berkisar 25 kilogram hingga maksimal 40 kilogram pada lahan bukaan baru.

Guna mengatasi lonjakan beban kerja manual akibat tingginya volume benih yang harus disebar, pemerintah daerah menyertakan dukungan paket mekanisasi pertanian modern secara gratis di lapangan. Para kelompok tani akan dibekali dengan mesin tanam langsung atau alat pembibitan portabel berupa drum seeder guna memastikan efisiensi waktu kerja di atas pematang.

“Kehadiran mekanisasi lewat drum seeder ini menjadi variabel kunci agar pengaturan jarak tiga sentimeter tersebut dapat tercapai dengan cepat tanpa menguras tenaga kerja manusia secara berlebihan. Kami optimistis, perpaduan antara teknologi benih, ketepatan pola tanam, dan modernisasi alat mesin pertanian ini akan mengukuhkan daya saing sektor agraria di Benua Etam,” pungkas Fahmi Himawan.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024