SAMARINDA, Swarakaltim.com — Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, sektor pariwisata Kalimantan Timur dituntut semakin kreatif dalam menarik minat wisatawan. Salah satu kunci yang dinilai mampu menjaga daya saing pariwisata daerah adalah memperkuat kolaborasi antar pelaku usaha sehingga mampu menghadirkan paket wisata yang lebih terjangkau dan kompetitif.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur Muhammad Faisal menilai, perlambatan ekonomi yang dirasakan berbagai sektor tidak seharusnya menjadi hambatan bagi dunia pariwisata. Sebaliknya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk menghadirkan alternatif rekreasi yang menarik bagi masyarakat.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat untuk berwisata dan mencari hiburan tidak akan pernah hilang meski kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, para pelaku wisata harus mampu membaca situasi dan menyesuaikan strategi agar tetap menjadi pilihan bagi wisatawan.
“Orang mungkin menunda bepergian jauh karena biaya transportasi mahal atau kondisi ekonomi sedang sulit. Tapi kebutuhan untuk rekreasi tetap ada. Ini yang harus dilihat sebagai peluang oleh pelaku pariwisata,” ujar Faisal di ruang kerjanya, Kamis (16/7/2026).
Ia menegaskan, upaya meningkatkan kunjungan wisatawan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah ataupun pengelola destinasi wisata semata. Diperlukan kerja sama seluruh elemen dalam ekosistem pariwisata, mulai dari sektor perhotelan, restoran, transportasi, biro perjalanan hingga pemandu wisata.
Menurut Faisal, sinergi tersebut menjadi penting untuk menciptakan paket wisata yang lebih menarik sekaligus mampu menekan biaya perjalanan yang selama ini kerap menjadi keluhan wisatawan.
“Kalau kita kompak, harga paket wisata bisa ditekan. Hotel bisa memberikan harga khusus untuk rombongan, restoran juga bisa memberikan penawaran yang menarik. Dengan begitu biaya wisata menjadi lebih terjangkau dan lebih mudah dipasarkan,” katanya.
Ia mengakui, salah satu tantangan yang masih dihadapi pariwisata Kaltim adalah persepsi sebagian masyarakat yang menganggap biaya berwisata ke daerah ini relatif mahal. Kondisi geografis yang luas dan jarak antardaerah yang cukup jauh memang membuat biaya perjalanan menjadi lebih tinggi dibandingkan sejumlah destinasi lain di Indonesia.
Namun demikian, Faisal meyakini persepsi tersebut dapat diubah apabila seluruh pelaku usaha pariwisata membangun komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi.
“Kalau masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan harga normal tanpa ada sinergi, tentu paket wisata menjadi mahal. Tetapi kalau semua saling mendukung, biaya bisa ditekan dan paket wisata akan lebih kompetitif,” jelasnya.
Selain harga, peningkatan kualitas layanan juga menjadi perhatian penting. Faisal menilai wisatawan saat ini tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman berwisata yang nyaman, aman dan berkesan.
Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, pelayanan kepada wisatawan, hingga pengelolaan destinasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu bersaing dengan daerah lain.
Dalam waktu dekat, Dinas Pariwisata Kaltim berencana memperkuat koordinasi dengan berbagai asosiasi pariwisata melalui forum diskusi dan evaluasi bersama.
Langkah tersebut dilakukan untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih harmonis sekaligus menyusun strategi peningkatan kunjungan wisatawan ke depan.
Faisal optimistis peluang pariwisata Kaltim masih sangat terbuka, terlebih dengan semakin meningkatnya mobilitas masyarakat ke wilayah Kalimantan Timur. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara maksimal apabila seluruh pemangku kepentingan mampu bergerak bersama dalam satu visi yang sama.
“Tidak ada pilihan lain selain sinergi dan kolaborasi. Kalau semua pelaku pariwisata bergerak bersama, saya yakin pariwisata Kalimantan Timur akan semakin kuat dan mampu bersaing dengan daerah lain,” pungkasnya. (dho)