Tanjung Redeb, Swarakaltim.com – Perpanjangan kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) di Kabupaten Berau akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar harus kembali beradaptasi agar siswa tetap memperoleh materi pembelajaran tanpa harus terpapar kualitas udara yang kurang sehat.
Menanggapi kondisi itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, saat ditemui di Kantornya jalan Murjani I, Tanjung Redeb, Jumat (4/9/2026), menuturkan bahwa pihaknya telah menyiapkan pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk mengantisipasi terganggunya proses pendidikan selama masa BDR.
“Situasi saat ini berbeda dengan masa pandemi Covid-19. Infrastruktur dan saluran pembelajaran berbasis digital dinilai sudah jauh lebih siap sehingga guru maupun sekolah dapat tetap memberikan pembelajaran meski siswa tidak hadir secara langsung di ruang kelas,” ungkapnya.
Mardiatul menjelaskan, penerapan kurikulum pembelajaran mendalam atau deep learning juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui lingkungan di sekitarnya. Dengan demikian, pembelajaran tidak harus selalu berorientasi pada buku maupun kegiatan di dalam kelas.
“Sekarang konsep pembelajaran sudah memberikan ruang bagi anak untuk memahami sesuatu melalui pengalaman di lingkungan sekitar. Jadi setelah pembelajaran secara online, guru bisa mengarahkan anak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan materi di rumah,” paparnya.
Pola tersebut tambahnya dinilai penting untuk mencegah BDR hanya berubah menjadi rutinitas pemberian pekerjaan rumah. Dinas Pendidikan justru mendorong guru menciptakan aktivitas belajar yang ringan, menyenangkan, namun tetap memiliki keterkaitan dengan materi yang diajarkan.
Mardiatul menegaskan, guru tidak diarahkan untuk membebani siswa dengan pekerjaan rumah dalam jumlah besar. Sebaliknya, aktivitas belajar harus disesuaikan dengan kondisi anak selama menghadapi situasi kabut asap.
“Yang kita jaga adalah anak tetap nyaman dan menikmati proses belajarnya. Tugas tetap diberikan, tetapi bentuknya lebih kepada kegiatan yang bisa mereka lakukan di sekitar rumah,” ujarnya.
Untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan efektif, Dinas Pendidikan Berau melakukan pemantauan secara berkala. Evaluasi dilakukan setiap tiga hari melalui komunikasi dengan para kepala sekolah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran sekaligus memastikan guru tetap menjalankan kewajibannya.
Langkah pengawasan itu menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya persoalan lain selama BDR, yakni kesenjangan proses belajar akibat tidak semua kegiatan pembelajaran berjalan sesuai rencana. Dinas Pendidikan ingin memastikan perpindahan pembelajaran dari ruang kelas ke rumah tidak membuat siswa kehilangan kesempatan memperoleh materi secara optimal.
“Kami melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin. Kami juga berkomunikasi dengan kepala sekolah untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan dan tidak ada materi yang tertinggal,” katanya.
Menurutnya, pembelajaran dari rumah merupakan langkah yang harus dijalankan selama kondisi lingkungan belum memungkinkan siswa kembali sepenuhnya ke sekolah. Perlindungan terhadap kesehatan siswa menjadi pertimbangan utama, namun proses pendidikan juga tidak boleh berhenti.
“Karena itu, kami meminta tenaga pendidik terus berinovasi agar kondisi karhutla tidak berkembang menjadi persoalan baru berupa ketertinggalan pembelajaran. Dengan memanfaatkan teknologi sekaligus lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, siswa diharapkan tetap dapat mengikuti pendidikan secara aktif tanpa harus berada di tengah kondisi udara yang tidak mendukung,” tambahnya.
Pada kesempatan itu Mardiatul menyampaikan harapannya, beliau berharap situasi karhutla segera mereda sehingga aktivitas belajar tatap muka dapat kembali berlangsung normal. Namun selama BDR masih diberlakukan, ia memastikan Dinas Pendidikan akan terus melakukan pengawasan terhadap sekolah dan mendorong guru menjaga kualitas pembelajaran agar hak pendidikan siswa tetap terpenuhi. (Nht/Bin)