Luky Yusgiantoro Kembali Pimpin ISKA, IKN Jangan Dipolitisasi

AKLAMASI: Luky Yusgiantoro (tengah) usai terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Presidium ISKA periode 2026–2030, Sabtu (12/9/2026) siang. (ISTIMEWA)

BALIKPAPAN, Swarakaltim.com – Luky Yusgiantoro kembali dipercaya memimpin Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) untuk periode 2026–2030.

Luky ditetapkan sebagai Ketua Umum (Ketum) Presidium ISKA secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional (Munas) XVII ISKA yang berlangsung di Balikpapan. Keputusan tersebut menjadi bentuk kepercayaan delegasi dari berbagai daerah atas kepemimpinannya pada periode 2022–2026.

Usai ditetapkan sebagai ketua umum, Luky menyatakan kesediaannya kembali mengemban amanah tersebut.

“Di hadapan saudara-saudari sekalian dan disaksikan Tuhan Yang Maha Esa, saya menyatakan bersedia mengemban amanah sebagai Ketua Presidium ISKA periode 2026–2030,” ujar Luky.

Luky menyampaikan apresiasi kepada Presidium Pusat ISKA periode 2022–2026 yang telah bersama-sama menjalankan roda organisasi hingga menyelesaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPj) yang diterima dalam forum Munas.

Ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam periode sebelumnya. Namun, berbagai catatan tersebut dinilainya sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat organisasi pada periode mendatang.

“Masih ada kekurangan. Apa yang menjadi catatan dalam forum akan menjadi bahan pembenahan ke depan,” katanya.

Memasuki periode kedua kepemimpinannya, Luky menegaskan ISKA harus mampu mengambil posisi sebagai mitra strategis pemerintah. Peran tersebut bukan berarti kehilangan daya kritis. Sebaliknya, ISKA diharapkan mampu menyampaikan kritik, gagasan, dan masukan secara konstruktif demi kepentingan bangsa.

Menurutnya, posisi ISKA sebagai organisasi intelektual Katolik harus diterjemahkan melalui kontribusi nyata dalam kehidupan kebangsaan. Terlebih menghadapi tahun politik 2029.

Luky menegaskan ISKA bukan organisasi politik. Namun, organisasi tersebut memiliki tanggung jawab menyiapkan kader-kader terbaik untuk berkiprah di berbagai bidang, termasuk politik.

“Ini yang kami dorong sebagai politik kebangsaan,” tegasnya.

Luky juga menekankan pentingnya memperluas gaung ISKA. Eksistensi organisasi tidak boleh hanya terdengar di basis-basis masyarakat Katolik, tetapi harus hadir lebih luas sebagai bagian dari dinamika intelektual dan kehidupan kebangsaan Indonesia.

Pesan kebangsaan tersebut sejalan dengan pandangan Deputi Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Thomas Umbu Pati Tena Bolodadi saat menerima kunjungan pada Sabtu (12/9/2026) siang.

Thomas menegaskan pembangunan IKN terus berjalan sesuai konsep yang telah dirancang. Kawasan IKN, kata dia, memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, bahkan dapat mencapai sekitar empat kali luas Kota Jakarta.

Namun, luas kawasan tersebut tidak berarti seluruh wilayah akan dibangun secara masif. Pembangunan IKN tetap mengedepankan prinsip kota hijau atau Green City.

“Intinya, IKN jangan dibawa ke ranah politik. IKN ini untuk kepentingan bangsa dan negara,” tegas Thomas.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan IKN tidak semata-mata berbicara tentang pemindahan pusat pemerintahan. Lebih dari itu, IKN diproyeksikan sebagai bagian dari agenda jangka panjang pembangunan Indonesia.

Di titik inilah ISKA dan IKN bertemu dalam satu perspektif. Kepentingan kebangsaan harus ditempatkan di atas kepentingan sektoral maupun politik jangka pendek.

Bagi ISKA, momentum kepemimpinan baru menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi kaum intelektual Katolik dalam kehidupan bangsa. Sementara bagi IKN, keberlanjutan pembangunan membutuhkan dukungan dan partisipasi seluruh elemen masyarakat agar tetap berada pada jalur kepentingan nasional. (*/dho)

www.swarakaltim.com @2024