SAMARINDA, Swarakaltim.com – Keseimbangan antara jumlah armada (supply) dan kebutuhan penumpang (demand) menjadi indikator utama Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam merestui ekspansi layanan taksi berargo.
Tanpa adanya kalkulasi kuota yang presisi, kelebihan armada angkutan tidak dalam trayek berpotensi menambah beban kepadatan lalu lintas di jalanan kota.
Pertimbangan strategis tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menyikapi pemaparan izin prinsip operasional taksi Bluebird di Balai Kota Samarinda.
Manalu menegaskan bahwa Dishub Samarinda tengah melakukan kajian komprehensif yang mencakup pemetaan potensi pengguna hingga analisis dampak sosial sebelum menerbitkan rekomendasi resmi.
“Ini harus dipertimbangkan supply demand-nya yang terkait dengan kebutuhan, berapa armada yang bisa kita rekomendasikan,” kata Manalu.
Ia menjelaskan bahwa perhitungan rasio ini sangat krusial untuk mencegah fenomena armada taksi mengetap atau berseliweran tanpa membawa penumpang, yang berisiko memperparah kemacetan di ruas-ruas jalan utama Samarinda.
“Jangan sampai nanti supply lebih banyak daripada demand, akhirnya menambah beban kinerja ruas jalan,” tegasnya.
Meski memahami terbatasnya opsi taksi berargo bagi warga Samarinda yang selama ini didominasi rute Bandara APT Pranoto, Manalu menggarisbawahi bahwa prioritas utama Pemkot Samarinda tetap berfokus pada pengembangan sistem transportasi umum massal berbasis trayek resmi.
“Visi ke depannya adalah tersedia public transport. Itu beda. Kalau angkutan tidak dalam trayek itu bisa bersifat taksi dan e-hailing car. Tapi yang lebih utama adalah angkutan dalam trayek yang bisa public transport,” pungkasnya.(DHV)