Daya Dukung Terbatas, Andi Harun Ketuk Hati Pengusaha Batu Bara hingga Galangan Kapal Salurkan CSR Alat Berat Pemeliharaan Polder

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengajak keterlibatan aktif sektor swasta dan pelaku industri dalam mendukung upaya penanganan banjir serta pemeliharaan fasilitas kolam retensi di Kota Samarinda. Keterbatasan armada alat berat mekanis milik pemkot menjadi alasan pentingnya kolaborasi melalui penyaluran program Corporate Social Responsibility (CSR).

Andi Harun, Wali Kota Samarinda menyampaikan imbauan terbuka tersebut saat meninjau kondisi Polder Gang Indra di kawasan Jalan Pangeran Antasari. Menurutnya, pemeliharaan polder dari pendangkalan sedimen hingga pertumbuhan gulma eceng gondok membutuhkan perawatan intensif sepanjang tahun yang sangat bergantung pada kesiapan unit alat berat jenis ekskavator.

“Samarinda sangat luas ya, di samping butuh anggaran yang besar, juga butuh tenaga yang cukup dalam rangka untuk pemeliharaan dari Januari sampai Desember tiap tahun. Belum lagi kebutuhan kita terhadap alat berat. Kita berharap sih sebenarnya kayak perusahaan-perusahaan besar di Samarinda ataupun di Kaltim ini ada yang bisa memberi CSR dalam bentuk misalnya eksa, karena daya dukung alat mekanis itu sangat besar,” kata Andi Harun.

Andi Harun mengungkapkan saat ini unit ekskavator pengeruk yang dimiliki Pemkot Samarinda jumlahnya masih sangat terbatas, yakni hanya berkisar satu hingga dua unit. Meski Pemkot tetap mengalokasikan anggaran penambahan armada mekanis pada APBD tahun depan, dukungan fasilitas dari sektor dunia usaha tetap sangat dibutuhkan untuk mempercepat penanganan di banyak titik polder.

Lebih lanjut, Andi Harun menyentil para pengusaha lokal yang bergerak di sektor pertambangan, industri perkapalan, hingga transportasi perairan agar dapat menggalang aksi bersama (urunan) demi membantu penataan lingkungan perkotaan.

“Jadi kami sih berharap ya, mudah-mudahan beberapa pengusaha di Samarinda yang punya usaha seperti galangan kapal, usaha-usaha lain industri yang ada, usaha pengusaha batu bara, pengusaha ponton yang enggak harus sendiri, mungkin urunan mereka bisa memberikan CSR dalam bentuk alat berat seperti ini. Ya mudah-mudahan ada yang terketuk hatinya,” ujar Andi Harun.

Di samping pemeliharaan rutin, Andi Harun membeberkan pertimbangan Pemkot Samarinda yang lebih memilih mengoptimalkan polder eksisting seperti Polder Gang Indra, Air Hitam, dan Ardan ketimbang membangun polder baru. Langkah ini diambil sebagai bentuk efisiensi anggaran daerah, mengingat biaya pembangunan satu kompleks polder baru saat ini bisa menelan alokasi dana hingga ratusan miliar rupiah.

“Membangun kolam retensi atau embung itu biayanya enggak murah, ratusan miliar ya. Dengan kapasitas tampung seperti di Gang Indra ini, ada kalau Rp 200 sampai Rp 300 miliar untuk kondisi harga sekarang, karena yang paling besar itu biaya tanggulnya. Jadi polder yang ada sekarang kita optimalkan, kita sesuaikan dengan kemampuan APBD kita sekarang di mana kita masuki dua tahun ini efisiensi,” pungkas Andi Harun.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024