Tekan Angka Stunting dari Rumah, Pemkot Samarinda Sasar 30 Keluarga Rawan Lewat Program Pekan Pangan Lestari

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemkot Samarinda terus mengintensifkan strategi penanganan stunting berbasis kemandirian keluarga. Melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Samarinda, optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah digencarkan sebagai instrumen ganda guna mendongkrak asupan nutrisi harian sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan dari tingkat domestik.

Program intervensi strategis ini secara spesifik menyasar sebanyak 30 keluarga risiko stunting yang tersebar di dua wilayah prioritas Kota Tepian. Berdasarkan pemetaan data lapangan, puluhan keluarga sasaran tersebut dibagi ke dalam dua titik episentrum wilayah penanganan.

Kepala DP2KB Samarinda, Deasy Evriyanti mengungkapkan, dari total target sasaran, sebanyak 16 keluarga berlokasi di Kecamatan Sungai Kunjang, sementara 14 keluarga lainnya berada di Kecamatan Samarinda Seberang. Sebaran wilayah tersebut mencakup kawasan padat dan rawan seperti Kelurahan Loa Bakung, Kelurahan Baqa/Tenun, hingga Kelurahan Loa Buah.

“Kami mengarahkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk 30 keluarga risiko stunting, yaitu 16 keluarga di Kecamatan Sungai Kunjang dan 14 keluarga di Kecamatan Samarinda Seberang,” ujar Deasy Evriyanti.

Sebagai langkah operasional, setiap keluarga sasaran tidak hanya dibekali edukasi dan pelatihan teknis bercocok tanam, tetapi juga mendapat dukungan logistik berupa distribusi bibit sayuran produktif bernutrisi tinggi, seperti komoditas cabai, tomat, dan terong. Komoditas tersebut dipilih lantaran memiliki siklus panen yang cepat serta sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan dapur sehari-hari.

Guna menjamin keberlanjutan program agar tidak berhenti sebatas seremonial pembagian bibit, DPPKB mengerahkan sebanyak 24 petugas pendamping terlatih. Tim pengawas lapangan ini terdiri dari kolaborasi lintas unsur, mulai dari Pokja 3 TP PKK, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), hingga kader pendamping lokal yang akan memantau perkembangan pekarangan warga secara intensif selama satu tahun penuh.

“Hasilnya paling tidak bisa dikonsumsi sendiri untuk pemenuhan nutrisi harian di rumah, atau dijual untuk menambah pendapatan,” terang Deasy.

Tak sekadar berhenti pada pemenuhan gizi keluarga melalui sayuran pekarangan, pendekatan program ini turut diperluas ke dimensi pemberdayaan ekonomi. Sebanyak 30 keluarga risiko stunting tersebut secara resmi diintegrasikan ke dalam wadah kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UP2KA).

Langkah taktis ini diharapkan mampu memutus rantai ketergantungan pangan harian, sekaligus mentransformasi pekarangan rumah menjadi sumber produktif yang menggerakkan kemandirian ekonomi keluarga secara berkelanjutan di Samarinda.

“Dengan memasukkan mereka ke dalam kelompok UP2KA, kita ingin pemanfaatan pekarangan ini menjadi pemicu kemandirian ekonomi keluarga sasaran secara berkelanjutan di Samarinda,” pungkasnya.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024