Pemkot Samarinda Siapkan Cold Storage untuk Jaga Stok Pangan dan Tekan Inflasi

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Pemerintah Kota Samarinda terus berupaya menjaga stabilitas harga bahan pangan dengan menyiapkan fasilitas cold storage untuk menyimpan komoditas strategis, seperti ikan dan hasil pertanian lokal.

Langkah ini dilakukan mengingat keterbatasan Kota Samarinda dalam memproduksi pangan sendiri serta kondisi pasokan pangan segar yang kerap berfluktuasi. Salah satu komoditas yang sulit dikendalikan ketersediaannya adalah ikan laut, khususnya ikan layang.

Pelaksana Harian Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Ekonomi Pemkot Samarinda, Nadya Turisna, mengatakan penyediaan cold storage menjadi strategi penting untuk menjaga kestabilan harga sekaligus memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

“Kalau ikan layang misalnya, itu sulit dikontrol karena keterbatasan kapal dan musim tangkap. Kota kami hanya bisa menggunakan kapal kecil, sementara yang besar untuk menangkap ikan layang mencapai 30 sampai 50 GT. Maka solusinya kita siapkan cold storage, supaya ikan yang datang bisa dibukukan dan digunakan sewaktu-waktu,” jelas Nadya usai Forum Lintas Perangkat Daerah penyusunan RKPD 2027, Selasa (10/3/2026).

Saat ini fasilitas cold storage yang tersedia di Varia Niaga telah dimanfaatkan untuk menyimpan sejumlah komoditas seperti daging ayam beku dan telur. Ke depan, pemerintah kota juga berencana menambah fasilitas penyimpanan untuk komoditas perikanan, terutama ikan air tawar seperti nila dan lele.

Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar karena produksi dari masyarakat cukup melimpah dan dapat mendukung upaya swasembada pangan lokal sekaligus menjadi bahan baku bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Produksi ikan air tawar seperti lele dan nila cukup banyak di masyarakat Samarinda. Kalau didukung cold storage, kita bisa jaga stok dan sekaligus menurunkan tekanan inflasi,” lanjutnya.

Selain sektor perikanan, pemerintah kota juga menaruh perhatian pada komoditas pertanian yang sering memicu inflasi, seperti cabai, bawang, dan daging sapi. Dalam hal ini, cold storage dinilai penting untuk menjaga ketersediaan stok ketika harga melonjak atau pasokan di pasaran menurun.

“Kalau inflasi terjaga, masyarakat tetap bisa membeli kebutuhan pokok. Dengan begitu, ekonomi juga tetap berjalan,” katanya.

Namun demikian, Nadya mengakui posisi Samarinda yang bukan sebagai daerah penghasil utama pangan menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas pasokan.

“Kita bukan penghasil utama, jadi pengadaan dan pengelolaan cold storage ini jadi sangat penting. Jangan sampai stok ada tapi masyarakat tidak kebagian, atau harga melonjak karena barang langka,” ujarnya.

Pengembangan fasilitas penyimpanan tersebut juga diharapkan dapat mendorong pengolahan hasil pangan lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik pisang maupun berbagai olahan ikan, yang pada akhirnya dapat memperkuat sektor UMKM dan ekonomi kreatif di Kota Samarinda.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024