
TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Bukan pemandangan yang aneh jika dalam sebuah pemukiman perkotaan yang sedang berkemabang masih ditemukan sejumlah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tidak berfungsi optimal, bahkan ada yang tidak mengikuti pedoman teknis, padahal pertumbuhan pendudukan dikawasan tersebut kian padat. Hal itu juga terjadi di Ibukota Tanjung Redeb sampai dengan tahun 2026 ini.
Menurut penilaian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), hal itu menunjukan masih lemahnya pengawasan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) memegang peran sentral dalam mengawasi setiap pembuangan limbah.
Namun hal ini menurut Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Berau, Sutami, tak ada kata terlambat jika instansi terkait itu serius menanganinya. Sutami menegaskan, pertumbuhan jumlah penduduk Berau yang semakin pesat, jika tidak diikuti oleh sistem pengelolaan limbah yang memadai maka kelak akan menjadi bom waktu buat pemerintah daerah.
“Kita ketahui bersama, jika kota itu sudah berkembang, otomatis semua aktifitas juga ter upgrade secara otomatis, mulai aktivitas rumah tangga, usaha kuliner, hingga kawasan pemukiman harus dibarengi dengan mekanisme pembuangan limbah yang terkontrol dan sesuai prosedur sanitasi,“ tegas Sutami.
Selama ini, limbah dari berbagai sumber langsung dilepas ke lingkungan tanpa proses penyaringan dan penanganan yang benar, sehingga risiko pencemaran semakin besar. Dampaknya bukan hanya pada kualitas lingkungan, tapi langsung menyentuh kesehatan masyarakat, apalagi warga ibukota memanfaatkan konsumsi air minum juga dari Sungai,” ujarnya.
“Jika pengawasan tidak tegas, maka akan selalu ada pihak yang memilih jalan pintas dengan membuang limbah seenaknya. Itu yang paling berbahaya,” imbuhnya.
Legislator dari Daerah Pemilihan Pesisir tersebut juga menambahkan, bahwa standar sanitasi bukan hanya urusan pemerintah, tapi juga perilaku masyarakat. Namun pemerintah tetap wajib memastikan sarana pengolahan limbah dan kebersihan berjalan baik, agar risiko penyakit bisa ditekan.
“Jika tidak dibenahi dari sekarang, maka dampaknya akan jauh lebih berat bagi kesehatan masyarakat kedepan, memang merubah budaya itu tidak mudah, namun jika tidak segera serius dimulai, maka semua hanya akan menjadi wacana dan kian menambah buruknya kualitas Kesehatan warga,“ tutupnya. (Adv/Nht/Bin).