SAMARINDA, Swarakaltim.com – Jurang antara kebutuhan sosial dan kemampuan anggaran di Kalimantan Timur (Kaltim) tengah melebar. Tahun ini, ribuan penyandang disabilitas harus menghadapi kenyataan pahit setelah kuota Bantuan Sosial Terencana (BST) menyusut tajam dari 6.000 menjadi hanya 500 orang di seluruh kabupaten/kota.
Kepala Dinas Sosial Kaltim, Andi Muhammad Ishak, buka suara terkait situasi sulit ini. Ia menegaskan bahwa efisiensi anggaran di seluruh sektor pada tahun 2026 menjadi penyebab utama penyesuaian angka tersebut.
“BST sebenarnya tidak dihentikan, namun kami harus melakukan penyesuaian jumlah penerima karena seluruh sektor mengalami efisiensi anggaran yang cukup dalam. Jika dulu kita bisa menyasar hingga 6.000 orang mulai dari kategori ringan, tahun ini kemampuan kita hanya untuk 500 orang,” ujar Andi Muhammad Ishak, Senin (11/5/2026).
Dengan data di sistem yang mencatat lebih dari 12 ribu penyandang disabilitas, Dinsos Kaltim kini terpaksa bermain di ruang yang sangat sempit. Bantuan tunai sebesar Rp1 juta per orang kini hanya diprioritaskan bagi mereka yang masuk kategori disabilitas berat.
Namun, upaya untuk menambah jangkauan bantuan tidak berhenti di situ. Dinsos kini tengah melakukan lobi anggaran kepada pemerintah provinsi agar ada tambahan kuota di sisa tahun ini.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah dan berharap di anggaran perubahan nanti ada tambahan untuk 2.000 orang lagi. Kami juga mulai mengevaluasi efektivitas bantuan tunai agar lebih tepat sasaran bagi mereka yang benar-benar rentan secara finansial,” tambahnya.
Ketergantungan Sadar bahwa anggaran daerah sangat fluktuatif, Dinsos Kaltim kini mulai mengarahkan kelompok disabilitas produktif untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan tunai. Program pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan dan pemberian modal alat kerja kini menjadi fokus baru pemerintah.
Transformasi ini diharapkan menjadi solusi bagi kelompok yang masih memiliki kapasitas kerja agar lebih tangguh secara ekonomi di masa depan.
“Bagi yang produktif, kita dorong lewat bantuan alat usaha dan pelatihan yang sudah berjalan selama dua tahun ini. Kami ingin mereka memiliki aktivitas usaha yang bisa menopang hidup secara mandiri,” pungkas Andi Muhammad Ishak.(DHV)