Deteksi Kasus TBC Samarinda Lampaui 70 Persen, Dinkes Cermati Keberlanjutan Pasokan Obat Nasional

SAMARINDA, Swarakaltim.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengintensifkan pemantauan terhadap ketersediaan logistik obat bagi penderita tuberkulosis (TBC) di wilayah setempat. Langkah antisipasi ini berjalan beriringan dengan melonjaknya grafik penemuan kasus baru hasil dari pengetatan skrining kesehatan massal di tingkat komunitas warga.

Otoritas kesehatan daerah melihat peningkatan temuan ini sebagai indikator positif dalam memutus mata rantai penularan di lingkungan padat penduduk. Meski demikian, tingginya angka pasien baru memicu urgensi tersendiri bagi kepastian pasokan obat-obatan spesifik yang selama ini distribusinya masih bergantung penuh pada pasokan pemerintah pusat.

“Penemuan penderita TBC di Samarinda sudah di atas 70 persen. Angka nasional masih di bawah itu. Semakin cepat kita menemukan, semakin cepat kita obati,” tutur Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih.

Ismed menjelaskan bahwa efektivitas deteksi dini yang tinggi ini memerlukan kepastian regulasi mengenai mekanisme pembiayaan logistik medis jangka panjang. Pihaknya kini tengah menjalin koordinasi intensif dengan kementerian terkait guna memastikan apakah suplai obat tetap disubsidi pusat atau bertransisi menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Apakah nanti tetap disubsidi pusat atau menjadi tanggung jawab daerah, itu yang masih perlu dipastikan,” sambung Ismed.

Guna memperkuat benteng pertahanan sektor kesehatan, Pemerintah Kota Samarinda bersama pihak legislatif juga sedang merampungkan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) khusus TBC dan HIV. Regulasi tingkat lokal ini diproyeksikan menjadi payung hukum formal untuk mengalokasikan anggaran penanganan penemuan kasus secara mandiri.

Penyelarasan fasilitas penunjang medis juga telah diikuti oleh sektor hilir pelayanan kesehatan daerah melalui penambahan kapasitas ruang rawat inap. RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda dilaporkan telah menambah alokasi tempat tidur isolasi khusus yang ramah bagi penderita komorbiditas TBC dan HIV demi memaksimalkan proses penyembuhan.

Data performa penanganan medis hingga pertengahan tahun 2026 mencatat realisasi capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) indikator TBC di Samarinda telah menyentuh angka 6.657 kasus. Skrining berkala terus diarahkan pada kelompok rentan seperti penderita diabetes melitus, warga binaan lembaga pemasyarakatan, kelompok lanjut usia, hingga masyarakat umum.

Dinkes Samarinda mengoptimalkan metode Active Case Finding (ACF) dengan merangkul kader kesehatan di tiap kelurahan melalui pembentukan Kampung TBC. Seluruh data pasien yang terjaring nantinya diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) melalui skema Public Private Mix yang menyatukan laporan dari klinik swasta maupun puskesmas.(DHV)

www.swarakaltim.com @2024