BALIKPAPAN,Swarakaltim.com. Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, program tersebut dirancang sebagai langkah awal untuk membangun budaya keterlibatan ayah secara berkelanjutan dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan, Nursyamsiarni Djufril Larose, mengatakan bahwa program GAMAS merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), yang kemudian ditindaklanjuti Pemerintah Kota Balikpapan melalui Surat Edaran Wali Kota Balikpapan Nomor 400.9.12.1/1513/E/SETDA tertanggal 27 Juni 2026.
Melalui program tersebut, Pemkot Balikpapan menargetkan meningkatnya keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak sebagai bagian dari upaya membangun keluarga berkualitas, memperkuat ketahanan keluarga, sekaligus mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Fokus utama program bukan hanya mengajak ayah hadir pada hari pertama sekolah, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan mendampingi anak dalam perjalanan pendidikan, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah,” jelasnya pada Selasa, 14 Juli 2026.
Selama ini, peran mengantar anak ke sekolah masih didominasi oleh ibu. Oleh karena itu, melalui GAMAS, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) ingin mengubah pola pikir bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama kedua orang tua.
“Kehadiran ayah dinilai memiliki dampak psikologis yang besar bagi anak. Momen sederhana mengantar anak ke sekolah mampu memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menjadi simbol perhatian dan dukungan saat anak memasuki lingkungan belajar,” terangnya.
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menilai perhatian sederhana dari seorang ayah dapat memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Menurutnya, pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, terutama sosok ayah.
Agar gerakan tersebut tidak berhenti setelah hari pertama masuk sekolah, DP3AKB telah menyiapkan sejumlah langkah keberlanjutan. Seluruh pelaksanaan GAMAS dipantau melalui koordinasi lintas perangkat daerah dengan dokumentasi kegiatan yang dikumpulkan selama periode 13–17 Juli 2026 sebagai bahan evaluasi.
Selain itu, camat, lurah hingga ketua RT diminta aktif menyosialisasikan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan melalui berbagai forum kemasyarakatan. Seluruh kepala sekolah juga diminta terus mengedukasi orang tua agar keterlibatan ayah dalam pendidikan anak menjadi budaya baru di Balikpapan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan bahkan memberikan dispensasi waktu bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengantar anak pada hari pertama sekolah, dengan tetap memastikan pelayanan publik berjalan normal melalui pengaturan tugas di masing-masing instansi.
DP3AKB berharap kebijakan tersebut menjadi pemantik lahirnya kebiasaan baru, di mana ayah tidak hanya hadir saat mengantar anak di hari pertama sekolah, tetapi juga aktif mendampingi proses belajar, menghadiri kegiatan sekolah, hingga terlibat dalam perkembangan pendidikan anak setiap hari.
Melalui gerakan yang berkelanjutan ini, Pemerintah Kota Balikpapan optimistis akan terbangun keluarga yang lebih harmonis, hubungan emosional ayah dan anak semakin kuat, serta kualitas sumber daya manusia terus meningkat sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.(Adv Diskominfo Balikpapan)