Perumdam Batiwakkal Catat Laba, Meskipun Tarif Air Masih di Bawah Biaya HPP

TANJUNG REDEB, Swarakaltim.com – Tahun 2025, Perusahaan umum daerah air minum (Perumdam) Batiwakkal, Kabupaten Berau kembali menunjukkan perbaikan kinerja keuangan.

Meski demikian, keberhasilan tersebut belum sepenuhnya berasal dari bisnis utama penjualan air bersih. Kondisi tarif yang masih berada di bawah biaya harga pokok produksi (HPP) menjadi tantangan serius yang hingga kini belum terselesaikan.

Hal itu disampaikan Direktur perusahaan pelat merah tersebut, Saipul Rahman, saat ditemui di kantornya Jl Raja Alam, Tanjung Redeb, Senin (13/7/2026).

“Dalam pencatatan perusahaan kami ada laba, namun nominalnya pastinya masih menunggu pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bersama Kuasa Pemilik Modal (KPM) sebelum memutuskan berbagai langkah strategis, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan PDAM,” katanya.

Menurut Saipul, secara umum performa perusahaan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun 2024 pendapatan perusahaan masih kesulitan menutup kebutuhan operasional, kini Perumdam telah mampu membiayai operasionalnya bahkan membukukan ada keuntungan.

Namun, ia menegaskan bahwa capaian tersebut bukan berasal dari peningkatan pendapatan penjualan air kepada pelanggan. Sumber pendapatan justru berasal dari sektor non air, terutama dari layanan pemasangan sambungan rumah (SR) pelanggan baru yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Alhamdulillah kondisi perusahaan tahun ini jauh lebih baik. Operasional sudah bisa tertutupi, bahkan ada keuntungan. Tetapi masih terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yakni tarif air yang belum mampu menutup biaya HPP. Selisih antara biaya HPP dan tarif yang dibebankan kepada pelanggan membuat bisnis inti penyediaan air bersih sebenarnya masih mengalami tekanan,” tuturnya lagi.

Tambah beliau, memang sejak beberapa tahun terakhir tarif air di Berau belum memenuhi prinsip full cost recovery (FCR), yakni kondisi ketika tarif mampu menutup seluruh biaya operasional perusahaan. Dengan kata lain, setiap meter kubik air yang diproduksi masih dijual di bawah biaya produksinya.

“Situasi itu membuat perusahaan harus mencari sumber pendapatan lain agar keseimbangan keuangan tetap terjaga. Apabila tidak ditopang oleh pendapatan non air, kemampuan perusahaan membiayai operasional akan jauh lebih berat. Makanya berbagai terobosan terus kami upayakan agar perusahaan tetap bisa beroparsi dengan lancar dan memberikan pelayanan tetap maksimal ke masyarakat,” tutur Saipul Rahman. (Nht/Bin)

www.swarakaltim.com @2024